Sementara, Prof. Dr. Aksin, M.Ag. dalam orasi ilmiahnya memaparkan bahwa untuk memahami Alquran tidak mudah. “Untuk menemukan kebenaran, makna Aquran dibutuhkan berbagai disiplin ilmu, tidak bisa hanya tunggal disiplin keilmuan,” katanya.
Menurut dia, banyak orang memberikan makna atau tafsir hanya melalui pendekatan tafsir yang sudah ada. Sehingga, ukuran kebenaran makna Alquran cenderung mengikuti tafsir yang ada. Hal ini menimbulkan persepsi, bahwa pemberi makna dianggap sah jika mengikuti tafsir sebelumnya.
"Jika tidak mengikuti tafsir sebelumnya tidak dianggap sah, walaupun secara teori itu benar. Orang belakangan yang mau menafsirkan Alquran, harus mengikuti tafsir ini. Ukuran kebenarannya bukan kepada teori. Seseorang yang menafsirkan tapi tidak menukil riwayat dari nabi dan sahabat-sahabat, tidak dianggap benar walaupun secara teoritis itu benar," tegas Prof. Aksin.
"Sehingga, faktor yang memberikan warna makna Alquran banyak dipengaruhi eksistensi (keberadaan) individual. Pembetukan sejarah hidup perorangan akan memberikan dampak besar terhadap peran pemahaman," bebernya.










