Ia mengungkapkan, bahwa pengguna layanan ODO meningkat dari waktu ke waktu. Dari 30 persen menjadi 97 persen di semester kedua tahun 2020. Di sisi lain, distribusi darah secara mandiri turun dari 70 persen menjadi 3 persen.
Yuhronur mengklaim, meningkatnya penggunaan ODO ini seiring dengan peningkatan indeks kepuasan masyarakat (IKM) pada Rumah Sakit Ngimbang yang mencapai 81,05 pada semester I tahun 2020. Sedangkan pada semester II tahun 2020 mencapai 82,21.
Tidak hanya itu, program layanan ODO ini juga memberdayakan masyarakat karena pengirimannya menggunakan jasa ojek lokal. Otomatis, rata-rata pendapatan tukang ojek lokal juga turut meningkat. Yakni dari Rp 829.200 menjadi Rp 2 juta lebih setelah adanya ODO. Risiko darah rusak juga dapat diminamalisir dengan penggunaan ODO, karena penyediaan fasilitas cool box (box simpan sesuai standar) dalam pengiriman.
Di hadapan 10 anggota Tim Panel Independen (TPI) KIPP 2021 yang diketuai oleh Prof. Dr. JB. Kristiadi, Yuhronur juga memaparkan bahwa saat ini RSUD Ngimbang telah mengembangkan inovasi dan rencana replikasi dari ODO berupa Tipo (Titip Pengambilan Obat) dan Swab Go yang memberi pelayanan berupa pengantaran Sample Swab Covid-19 ke RSUD dr. Soegiri dan Laboratorium Kesehatan di Kota Surabaya.










