Wali Kota Kediri juga menuturkan, TP2DD adalah sebuah keniscayaan karena ke depan semuanya serba digital. Seperti dicontohkan, pedagang atau UMKM di Kota Kediri yang saat ini cenderung sepi order, namun mereka mencoba beralih menggunakan marketplace dalam berjualan. Hasilnya bisa dilihat dengan omzet yang meningkat, karena di marketplace permintaannya juga sangat tinggi.
“Kita juga terus mendorong dalam digitalisasi UMKM dan memang dalam hal ini juga harus ada campur tangan Bank Indonesia. Selain itu, kerja sama dengan para UMKM dan petani harus terjalin agar dapat mengendalikan inflasi. Daripada barang-barang dari petani itu diangkut orang lain, ini bisa bikin kacau dan pastinya barang akan ditimbun. Kalau sudah barang ditimbun, inflasinya bisa tidak terkendali,” tambahnya.
Dalam mengendalikan inflasi, lanjut wali kota, kerja sama dengan daerah lain memang sangat penting. Mas Abu memberikan contoh bahwa Kota Kediri dalam memenuhi pasokan telur bekerja sama dengan Kabupaten Blitar. Selain dengan daerah lain, juga bekerja sama dengan para pelaku bisnis gula dan lainnya.
Menurut wali kota, dengan memperkuat kerja sama antar daerah, dampak inflasi yang bagus juga bisa dirasakan tidak hanya di daerah yang melakukan pengendalian tapi juga pada daerah sekitarnya. Selain itu, juga dapat mengundang para investor untuk berinvestasi, karena investor juga melihat tingkat inflasi di daerah tersebut.










