Keistimewaan Tenun Ikat Kediri, "Menjual" Buatan Tangan, Jadi Banjir Pesanan

"Promosi dari pemkot mulai dengan DSF (Dhoho Fashion Street), dengan pameran, juga anjuran untuk pakai tenun bagi staf dinas memang menaikkan pesanan hingga semua produk terserap," tambah Eko.

Namun sebagaimana karakter produk buatan tangan, lanjut Eko, skala produksi memang kecil. Bila ingin menambah volume produksi, maka harus menambah tenaga kerja. Ini tidak mudah. Selain perlu menambah ATBM, juga penenunnya. Eko mulai membina generasi muda, usia 20 tahunan yang minat dengan tenun. Butuh waktu 2-3 bulan untuk menjadi penenun yang bisa diandalkan.

"Tapi kami tetap ingin mempertahankan ATBM, sebab ini 'jualan' kita. Ini uniknya yang diakui orang luar sana. Kalau pakai mesin, lalu apa yang kita jual?," kata Eko.

Seperti diketahui, tenun ikat Kediri kini semakin banyak dikenal di luar kota. Beda sekali dengan 5 tahunan silam ketika ia ikut pameran di Jakarta. Orang tidak tahu bahwa di Kota Kediri ada tenun ikat. Jadi, promosi yang telah dilakukan pemkot membuahkan hasil. Selain juga kualitas tenun ikat Kediri diakui oleh para pemakainya, termasuk desainer.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: