Sabtu, 08 Agustus 2020 13:34

Tanya-Jawab Islam: Bolehkah Menikahi Keponakan Tiri?

Sabtu, 11 Juli 2020 01:28 WIB
Editor: Redaksi
Tanya-Jawab Islam: Bolehkah Menikahi Keponakan Tiri?
Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.

>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<<

Pertanyaan

Assalamualaikum ustad, saya mau bertanya tentang pernikahan. Jadi gini Ustad, kakak perempuan saya sudah menikah dengan laki-laki (duda) yang mempunyai anak perempuan, Jikalau saya menikahi anaknya gimana hukumnya? Terima kasih. haryadibudi4 haryadibudi4@gmail.com.

Jawaban:

Yang harus menjadi barometer dalam bolehnya saling menikah adalah tidak adanya unsur mahram antara laki-laki dan perempuan itu. Jika ada hubungan mahram, maka haram hukumnya mereka menikah. Jika tidak ada hubungan mahram (secara agama) -walaupun adat menganggapnya masih keluarga-, maka boleh menikah di antara mereka. Hal ini agar menjadi rujukan dalam masalah pernikahan.

Nah, mahram itu apa? Mahram adalah hubungan keluarga dekat yang tidak sah saling menikah dan tidak membatalkan wudhu jika bersentuhan kulit. Ketentuan mahram ini sudah termaktub di dalam Alquran. Allah berfirman tentang siapa saja yang mahram bagi kita :

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu kumpuli, tetapi jika kamu belum menggauli istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. An-Nisa : 23)

Hubungan keluarga di atas itulah yang disebut dengan mahram, yang tidak sah jika saling menikah di antara mereka. Maka, berdasarkan ayat di atas juga, para ulama membagi mahram ini menjadi tiga macam; Pertama, Mahram karena nasab atau keturunan. Mereka adalah (1) Ibu kandung, (2) anak perempuan kandung, (3) saudara wanita kandung, (4) bibi dari ayah, (5) bibi dari ibu, (6) keponakan wanita dari saudara laki-laki, dan (7) keponakan wanita dari saudara wanita. Dan juga maksud dari kata “ibu” pada ayat di atas ialah ibu, nenek, dan seterusnya ke atas. Demikian juga yang dimaksud dengan “anak” perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan, dan seterusnya ke bawah.

Kedua, Mahram karena pernikahan. Mereka adalah (1) mertua wanita, (2) anak tiri wanita (anak dari istri), (3) menantu perempuan, (4) ibu tiri, dan (5) saudara ipar wanita. Hanya saja khusus untuk saudara ipar yang wanita tidak menjadi mahram selamanya. Suatu saat bisa hilang kemahramannya jika si pria sudah tidak menjadi suami saudaranya itu, karena cerai atau meninggal. Demikian juga bibi dari istri, sama hukumnya dengan saudara ipar.

Ketiga, Mahram karena penyusuan. Artinya menyusu pada ibu yang sama akan menjadi mahram sepersusuan walaupun dilahirkan dari ibu yang berbeda. Mereka adalah (1) ibu yang menyusui dan (2) saudara wanita sepersusuan.

Di luar itu semua yang tidak disebutkan pada ayat di atas halal untuk dinikah, alias boleh untuk dinikah. Maka, keponakan dari jalur anak bawaan suami kakak perempuan itu bukan mahram, hubungan kekerabatannya tidak ada dalam agama Islam. Hakikatnya dia adalah orang luar, anak dari suami kakak perempuan ketika masih belum menikah dengannya. Nah, itu bukan keluarga.

Bahkan, saudara tiri (contoh laki-laki bawaan ibu, perempuan bawaan ayah) itu pun bukan mahram dan boleh saling menikah, sebab hakikatnya ia adalah bukan saudara. (al-Bujairami, 4:174). Poin penting yang juga jadi perhatian dari penjelasan ini adalah bahwa saudara tiri, keponakan tiri, itu bukan mahram. Artinya jika bersentuhan tangan itu membatalkan wudhu, saling ngobrol berduaan (khalwat) juga dilarang, keluar hanya berduaan tanpa ada mahram lain juga dilarang. Di lain sisi mereka boleh menikah, karena bukan termasuk kerabat kekeluargaan. Wallahu a’lam.  

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Jumat, 24 Juli 2020 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kreatif. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sudah dilakukan oleh Pemkot Surabaya dalam usahanya mempercantik kawasan Ekowisata Mangrove Medokan Sawah. Betapa tidak, dari sejumlah barang-barang bekas, sepe...
Kamis, 06 Agustus 2020 20:34 WIB
Oleh: Prof Dr Rochmat WahabPada hakekatnya manusia bermula dari lahir, tumbuh dan berkembang mencapai puncak, menurun dan berakhir dengan wafat. Inilah sunnatullah, normalnya manusia, walau pada prakteknya ada juga yang dipanggil Allah SWT, s...
Minggu, 02 Agustus 2020 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 03 Agustus 2020 11:04 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan ala...