Pilwali Surabaya, Kandidat Poros Tengah Bisa Kalahkan Hegemoni PDIP-Birokrat

Jelasnya tanpa dukungan partai politik pun seseorang bisa menjadi kepala daerah. Selanjutnya kemenangan seorang calon independen di pilkada, sekurangnya dapat menjawab nyaris putus asanya masyarakat, karena dipaksa untuk menerima kenyataan, bahwa selama ini hanya calon dari jalur politik yang bisa memenangi pilkada.

Kalau ini terjadi, kita bisa membuat sejarah baru dan peta politik baru, sehingga putra-putri terbaik di kota atau kabupaten bisa menjadi kepala daerah tanpa harus tergantung pada partai politik; dan bisa melakukan pendanaan kampanye dalam jumlah yang masuk akal serta dengan cara-cara yang bersih; sehingga akan sangggup memimpin dengan kepala tegak, penuh percaya diri, dan terhormat.

Sebagai bukti fenomena tersebut, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, saat merilis jumlah pasangan calon kepala daerah di Pilkada 2018. Menurut data KPU saat itu, ada 514 pasangan calon yang ditetapkan sebagai peserta Pilkada, 69 di antaranya calon independen.

Berdasarkan rembesan informasi, publishing dan "curi" dengar sana-sini, kemudian diolah dalam analisis, sudah hampir bisa dipastikan, bahwa polarisasi SUARA / KEKUATAN BURGAINING para "balon" kontestan PILWALI SURABAYA mengerucut membentuk TIGA SUDUT kekuatan. Boleh saya katakan, bahwa siapa pun kandidat WALIKOTA (walkot) Surabaya, tidak bisa tidak musti mengkalkulasi KEKUATAN BURGAINING nya dengan apa yang saya sebut *KEKUATAN SEGITIGA* atau *TRIANGLE of POWER*.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini:Pilwali Surabaya, Kandidat Poros Tengah Bisa Kalahkan Hegemoni PDIP-Birokrat - Halaman 2