"Memang tidak bisa serta merta, tapi pelan namun pasti dampaknya sudah dapat dirasakan. Coba lihat Malang yang sudah mampu membangun industri pariwisatanya sendiri bahkan sampai level desa dengan memanfaatkan dana desa. Ini lah pentingnya perwujudan pembangunan kepariwisataan yang berkelanjutan," tuturnya.
Selaras dengan upaya tersebut, lanjut Khofifah, Pemprov Jatim terus mendorong pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di bidang pariwisata untuk menyiapkan SDM atau para lulusan di bidang pariwisata yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang relevan dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) saat ini.
Ditambah tren pariwisata era 4.0 merubah perilaku wisatawan yang cenderung lebih mandiri, personal, dan mobile, sehingga tidak mengandalkan agen travel. Mereka lebih menyukai melakukan interaksi dan mencari informasi tentang tempat wisata melalui digital atau aplikasi pariwisata yang menyediakan layanan pemesanan tiket, hotel, sampai dengan pembelian tiket obyek wisata.
"Maka lulusan SMK bidang pariwisata harus berseiring dengan kebutuhan tren saat ini. Selain itu teknologi pariwisata harus bergerak sehingga konektivitas antara skill anak SMK dan kebutuhan wisatawan baik dalam maupun luar negeri bisa disiapkan,” kata Khofifah.










