“Jadi total santri yang mondok saat ini sebanyak 60 orang,” ungkap Abah Hamid, sapaan khasnya.
Sepeninggal KH Ahmad Marzuki, regenerasi Ponpes Bureng banyak mengalami perubahan, khususnya setelah tahun 1970-an. Sebelum tahun itu, para santri berasal dari masyarakat sekitar Kecamatan Wonokromo khususnya Kelurahan Wonokromo. Ada juga yang berasal dari luar kota seperti Ponorogo, Pacitan dan sebagainya.
Memasuki tahun itu (1970), trennya menjadi lain. Meski bukan pesantren mahasiswa, yang menjadi santri Ponpes Bureng waktu itu adalah para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di IAIN, sekarang menjadi UINSA Surabaya. Ada juga mahasiswa yang berasal dari IKIP, yang sekarang berganti nama menjadi Unesa Surabaya.
“Karena pada jaman dulu masih banyak sawahnya, maka para santri yang banyak berasal dari IAIN (UINSA) jalan kaki tidak merasa jauh. Setelah Surabaya menjadi kota metropolitan, trennya berubah dari mahasiswa UINSA menjadi Unesa sampai sekarang,” ungkap KH Mas Muhammad Zaini Mahmud, cucu KH Ahmad Marzuki, Pendiri Pondok Pesantren Bureng ini.










