Jelang Pilgub Jatim 2018, Partai NasDem Sindir Usulan Calon Tunggal Mirip Sistem Dinasti

“Sistem demokrasi dihadirkan sebagai lawan dari sistem monarkhi dan aristokrasi. Calon tunggal tak ubahnya dengan sistem dinasti dan elit yang totaliter, yang tak menyajikan alternatif pilihan kepada rakyat. Padahal, demokrasi itu sistem yang terbuka bukan sistem yang tertutup,” sindir mantan Komisioner KPU Jember itu, Minggu (4/6).

Eksan mengingatkan, setiap warga negara punya kesempatan yang sama untuk dipilih dan memilih. Barangtentu, yang memenuhi syarat sebagaimana diatur oleh peraturan perundang-undangan. Dirinya mengutip Robert W Hefner, bahwa democratic civity (keadaban demokrasi), keterbukaan dan partisipasi. Tafsir dari keadaban demokrasi itu dilihat dari kualitas dan kuantitas keterbukaan dan partisipasi dalam menilai demokrasi tersebut.

Anggota DPRD Jatim ini mengingatkan, mayoritas negara-negara di dunia, menilai demokrasi Indonesia sudah matang. Hiruk-pikuk, centang paranang pilgub DKI Jakarta, berakhir dengan happy-ending. Semua pihak menerima hasil pemilu. Yang menang maupun yang kalah, mampu menunjukkan sikap yang kesatria. Demokrasi Indonesia sangat mengagumkan.

Karena itu, tidak pada tempatnya beralasan, wacana calon tunggal, agar eskalasi politik terkendali, tak seperti Pilgub DKI Jakarta yang panas dan berpotensi menimbulkan diintegrasi nasional. Sebab proses politik demokratis tak menganggu terhadap pembangunan ekonomi Jawa Timur. Bagaimanapun, Pilgub Jawa Timur merupakan momentum terbaik bagi masyarakat memperoleh pencerahan dari kontestasi politik gagasan dari para bakal calon yang maju.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini:Jelang Pilgub Jatim 2018, Partai NasDem Sindir Usulan Calon Tunggal Mirip Sistem Dinasti - Halaman 2