“Sebelum ini, resiko kehilangan uang itu dialami santri, uang bulanan digunakan untuk kegiatan lain, dan lainnya, makanya dengan non tunai ini bisa lebih tepat sasaran, dan aman,” tandas Gus Solah.
Sementara itu, Hestu Wibowo, Kepala Divisi Pembayaran, Komunikasi dan Layanan Publik BI Perwakilan Jawa Timur menyatakan, pihaknya memandang Jawa Timur adalah daerah yang berbasis Ponpes.
“Pesantren memiliki potensi yang cukup besar dalam hal transaksi pembayaran. Kita menjadikan pesantren sebagai salah satu komunitas nontunai. Setelah di sini, kami juga akan mengajak pesantren lain,” katanya.
Hestu menjelaskan, melalui GNNT pihaknya ingin memberikan kemudahan bagi elemen pesantren, termasuk santri dalam bertransaksi.










