Pertama, tragedi itu adalah kehendak Tuhan dalam rangka memberi informasi kepada umat Nahdliyin pada khususnya dan kepada masyarakat DKI Jakarta dan umat Islam Indonesia pada umumnya. Bahwa sekualitas itulah keimanan seorang Nusron Wahid yang notabenenya sebagai ketua PBNU yang juga mantan ketua umum PP GP Ansor. Keimanan yang padam saat berhadapan dengan syahwat politik.
Kedua, sebagai pitutur bagi elite Nahdliyin untuk lebih berprinsip dan lebih berkarakter dalam pembentukan mental nahdliyah pada kadernya. Jangan terus diajari sok toleran yang tidak jelas parameternya, tak jelas antara toleransi dan kelemahan iman. Jadinya ya macam Cak Nusron itu. Semoga tidak ada lagi orang yang memahami, bahwa nama "Wahid" yang melekat pada Cak Nusron itu adalah "Wahid" yang ada pada nama besar Gus Dur, Abdurrahman Wahid.
Ketiga, fenomena Nusron itu sungguh catatan bagi para pemerhati Dakwah Islamiah, bahwa keimanan umat islam negeri ini masih banyak yang mengambang, formalistik dan kurang esensial. Muslimah di entertainment, kayak Inul, Ayu, Dewi Persik, Jupe sama sekali tidak risih membuka aurat dan bergoyang erotis di hadapan publik. Kini di gelanggang politik, ada fenomena ketua Ansor menjadi ketua tim sukses non muslim. Tak salah umat bertanya, "di mana nur keimanannya?".
Keempat, fenomena memudarnya "ukhuwwah islamiah" yang digembor-gemborkan oleh para elite Nahdliyyin, termasuk PBNU dan ANSOR dan pribadi Cak Nusron sendiri yang disampaikan di berbagai tempat. Katanya, "mukmin itu bersaudara". Katanya, "Muslim itu bersaudara". Karena Cak Nusron bergabung dengan wong kafir dan melawan saudaranya sendiri yang seiman, maka ukhuwahnya pantes disebut "ukhuwah kafiriyah". Jika insan hiburan macam Inul dibilang tipis iman, maka itu masih ada maklumnya. Tapi ini insan PBNU dan Ansor (?).










