"Website lebih mudah, karena bisa dari laporan masyarakat. Tapi kalau media sosial biasanya merekahit and run. Jadi ada tim yang dikatakan tidak di Kominfo. Karena Kominfo lebih fokus pada pengaduan masyarakat. Kami berikan jalur khusus kepada aparat keamanan. Kalau yang kaitan radikalisme terorisme itu tidak memberitahu kapan mau terjadi dan di mana terjadinya, jadi harus ada jalur khusus," paparnya.
Rudiantara menghimbau kepada masyarakat agar tidak meneruskan sebuah informasi yang belum tentu kebenarannya. Apalagi yang berkaitan dengan isu radikalisme dan terorisme.
Rudiantara menambahkan, "Saya harapkan kepada masyarakat, jangan mudah untuk mem-forward informasi yang barangkali belum akurat. Yang malah nanti membuat masyarakat bingung, ini benar atau tidak. Belum tentu itu benar, atau malahhoax. Timbang-timbang, walaupun itu dari teman atau saudara. Dengan kita berpikir mengenai konten-nya itu, kita akan mengurangi 1 orang bingung dengan sebuah informasi yang kita kirim."
Di antara ke 11 situs radikal itu ada situs www.bahrunnaim.com yang diduga milik Bahrunnaim warga negara Indonesia seorang simpatisan negara Islam Irak Suriah (ISIS) yang bermukim di Suriah. Bahrunnaim ini menurut kepolisian diduga berada di balik aksi teror bom bunuh diri dan penembakan di kawasan jalan Thamrin Jakarta.










