TULUNGAGUNG, BANGSAONLINE.com - Karyati (45) merasakan langsung manfaat program JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional ketika harus menjalani pengobatan kanker.
Ia mendaftar sebagai peserta JKN pada 2025 dengan kesadaran pentingnya perlindungan kesehatan, namun setahun kemudian dirinya justru membutuhkan layanan tersebut.
Pada April 2026, Karyati menemukan benjolan di payudara. Ia memeriksakan diri ke puskesmas sebelum dirujuk ke poli bedah onkologi RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Blitar, untuk operasi. Setelah itu, ia mendapat rujukan ke RSUD dr. Iskak Tulungagung guna menjalani kemoterapi.
“Prosesnya lancar dan tidak berbelit-belit. Dokter langsung menjadwalkan kemoterapi,” ujarnya pada Senin (5/10/2026).
Meski sempat khawatir soal biaya, seluruh rangkaian pengobatan mulai dari operasi, rawat inap hingga kemoterapi ditanggung penuh oleh JKN.
“Pengobatan kanker itu mahal, tapi dengan BPJS Kesehatan semua ditanggung, tidak ada biaya sama sekali. Administrasinya pun mudah, cukup menunjukkan KTP,” katanya.
Sebagai peserta segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), Karyati juga memanfaatkan aplikasi Mobile JKN untuk mendaftar antrean kontrol.
“Mobile JKN sangat mempermudah, tidak perlu antre pagi-pagi, cukup lewat gawai pintar saja,” ucapnya.
Pengalaman tersebut membuat Karyati semakin yakin akan pentingnya jaminan kesehatan. Ia berharap masyarakat tidak menunggu sakit untuk menyadari manfaat JKN.
“Daftar JKN itu tidak ada ruginya, karena biaya pengobatan pasti dijamin. Harapan saya program ini dipertahankan dan ditingkatkan agar masyarakat kalangan bawah bisa berobat tanpa beban,” tuturnya. (fer/mar)










