BLITAR,BANGSAONLINE.com - Saiful Anwar, warga Desa Slorok, Kecamatan Garum, menjadi salah satu penumpang yang berhasil menyelamatkan diri saat KM Virgo 8 mengalami kecelakaan di perairan Masalembu, Laut Jawa.
Meski selamat dari kecelakaan tersebut, Saiful tidak langsung pulang ke Blitar. Selama sekitar dua pekan, ia memilih bertahan di Banjarmasin untuk menunggu kabar keberadaan pamannya, Jarot Setyawan, yang ikut dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin.
Saiful diketahui bekerja sebagai sopir ekspedisi dan telah sekitar satu setengah tahun mengantarkan barang antarpulau.
Saat KM Virgo 8 mengalami kecelakaan, ia sedang dalam perjalanan mengirim barang menuju Kalimantan.
Sementara itu, Jarot baru pertama kali ikut menyeberangi lautan. Saat itu, sang paman sedang tidak bekerja sehingga memilih ikut dalam perjalanan bersama Saiful.
Saiful menceritakan, sebelum kecelakaan terjadi, dirinya bersama Jarot sedang tidur di kamar sopir. Keduanya kemudian terbangun setelah kapal mulai miring.
“Ada yang membangunkan karena kapal miring. Saya langsung bangun, saya lihat Paklik (paman) itu sudah lari duluan. Saat itulah kami terpisah,” ujar Saiful.
Menyadari kondisi kapal semakin membahayakan, Saiful kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan mengenakan jaket pelampung.
Namun, upayanya untuk keluar dari kapal tidak mudah. Bagian luar kapal sudah dipenuhi penumpang yang juga berusaha menyelamatkan diri.
“Saya ikut lari pakai jaket pelampung, tapi tidak bisa keluar. Di depan saya itu sudah banyak orang mau menyelamatkan diri. Kapal juga sudah miring,” tuturnya.
Dalam situasi penuh kepanikan tersebut, Saiful akhirnya memutuskan untuk melompat keluar dari kapal. Setelah berhasil keluar dan kapal mulai tenggelam, ia menyusuri bagian atas kapal yang masih terlihat di permukaan air sebelum akhirnya tubuhnya dihantam ombak besar.
“Saya menyusuri atas kapal yang masih ada di permukaan air, lalu kena ombak besar. Kemudian saya bisa meraih sekoci life raft,” katanya.
Saiful kemudian berhasil dievakuasi sekitar pukul 08.00 menggunakan kapal tanker milik Pertamina. Saat dievakuasi, ia masih mengenakan jaket pelampung sebelum akhirnya naik ke sekoci.
Meski berhasil menyelamatkan diri, Saiful belum ingin meninggalkan Banjarmasin. Ia memilih bertahan selama sekitar dua pekan demi menunggu kabar tentang pamannya.
“Saya di Banjarmasin dua minggu menunggu Pak Jarot ditemukan,” ujarnya.
Penantian panjang tersebut akhirnya berakhir setelah keluarga menerima kabar bahwa jenazah Jarot telah ditemukan.
Keluarga kemudian mengenali jenazah tersebut melalui sejumlah barang yang masih dikenakan korban, di antaranya gelang, sweter, dan kaos yang dipakai saat kejadian.
Meski demikian, keluarga masih menunggu hasil tes DNA untuk memastikan identitas Jarot.
Setelah kabar tersebut diterima, jenazah Jarot dipulangkan ke Blitar pada Jumat (2/10/2026).
Jenazah dibawa ke rumah duka di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Setibanya di rumah, jenazah Jarot langsung dimakamkan di pemakaman desa setempat. (ina/van)










