Lagi, ITS Inovasikan BMSense, Baterai Cerdas Berbasis Material Kuantum

Ringkasan Berita
  • Tim ITS mengembangkan BMSense, baterai cerdas berbasis material kuantum LiPo Graphene yang terintegrasi dengan sistem pemantauan IoT dan BMS untuk real-time monitoring.
  • Inovasi ini ditujukan untuk aplikasi energi terbarukan seperti PLTS, cadangan energi, dan sistem off-grid, guna mengatasi keterbatasan baterai konvensional.
  • BMSense memiliki konfigurasi 3s dengan tegangan nominal 11,1 volt dan memungkinkan pemantauan real-time tegangan per sel, arus, suhu, serta kondisi baterai melalui sistem digital.
  • Produk ini dikembangkan melihat peluang meningkatnya kebutuhan PLTS, elektrifikasi industri, dan sistem energi di wilayah terpencil di Indonesia.
  • Pengembangan melibatkan kolaborasi lintas departemen di ITS dan mitra industri, dengan tujuan mendorong implementasi dan komersialisasi teknologi penyimpanan energi ini.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Tim pengembangan riset dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menyajikan inovasi terbarunya. Kali ini, inovasi tersebut Adalah Baterai Management Sensor (BMSense). Yakni baterai cerdas yang memadukan material kuantum dengan sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT).

Ketua Tim Peneliti BMSense, Grasianto menejelaskan, BMSense dikembangkan sebagai solusi penyimpanan energi yang dapat digunakan pada berbagai aplikasi energi terbarukan, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sistem cadangan energi, hingga sistem energi off-grid. Produk tersebut mengusung material LiPo Graphene berbasis material kuantum yang dipadukan dengan Battery Management System (BMS), mikrokontroler, serta sensor untuk memantau kondisi baterai secara real-time.

Pengembangan baterai tersebut diarahkan untuk menjawab sejumlah persoalan pada teknologi baterai konvensional.

“Baterai ini dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan pemantauan, efisiensi energi, serta fleksibilitas sistem penyimpanan,” kata Grasianto, Kamis (1/10/2026).

Dari sisi teknologi, lanjut Grasianto, BMSense memiliki konfigurasi subkulit 3s (bagian dari konfigurasi elektron atom) dengan tegangan nominal 11,1 volt dan tegangan penuh 12,6 volt. Sistem pemantauan memungkinkan pengguna memantau tegangan setiap sel, arus, suhu, hingga kondisi baterai melalui sistem digital secara real time.

“Kemampuan tersebut memberikan informasi mengenai kondisi baterai, sehingga pemantauan sistem penyimpanan energi dapat dilakukan secara lebih terukur,” terang Grasianto.

Pengembangan BMSense juga melihat peluang penerapan teknologi penyimpanan energi di Indonesia. Meningkatnya kebutuhan PLTS, elektrifikasi sektor industri dan komersial, serta sistem energi di wilayah terpencil menjadi peluang bagi pengembangan produk tersebut. 

Tim pengembangan inovasi ini melibatkan dosen Departemen Kimia dan Departemen Teknik Instrumentasi, mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Departemen Teknik Elektro ITS, serta PT Jokeen Solusi Teknologi dan Jokeen Energy sebagai mitra industri. Kolaborasi lintas bidang tersebut diharapkan dapat mendorong BMSense menuju tahap implementasi dan komersialisasi. (msn)