Pecah Kongsi! Prabowo Disebut Kantongi Tiga Nama Cawapres Militer, Siapa Saja, Gibran Gandeng Siapa

JAKARTA, BANGSAONLINE.com-Kongsi politik antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo tampaknya akan segera berakhir. Prabowo dikabarkan tidak akan menggandeng Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2029 mendatang. Prabowo bakal memilih cawapres dari militer. Bahkan Prabowo telah mengantongi tiga nama orang dekatnya untuk cawapres pada Pilpres 2029. Siapa saja? Bagaimana nasib Gibran? Simak tulisan M. Mas'ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE yang merangkum dari berbagai sumber. Selamat membaca:

Meski pemilihan presiden dan wakil presiden masih tiga tahun lagi, 2029, tapi kasak-kusuk politik calon presiden dan wakil presiden sudah riuh. Masing-masing kubu mulai melakukan cek ombak. Yang menarik, hasil investigasi majalah Tempo terbaru, 21-27 September 2026, menyebutkan bahwa Prabowo Subianto tidak akan berpasangan lagi dengan Gibran dalam Pilpres 2029.

Hal ini diungkap oleh Husein Abri Dongoran, wartawan Tempo, dalam siniar Bocor Alus Tempo. Menurut Husein, informasi ini sudah menyebar di kalangan orang dekat Jokowi dan juga para relawannya.

“Per September ini mereka dapat informasi. Ya ini bukan dari nara sumber tunggal, sudah kita cek dari berbagai nara sumber,” ujar Husein dalam Bocor Alus Tempo.

Menurut dia, ada tiga nama kandidat yang akan digandeng Prabowo Subianto sebagai cawapres pada Pilpres 2029. Semuanya berlatar belakang militer.

“Yang pertama adalah Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional. Yang kedua adalah Sugiono, Sekjen Partai Gerindra sekaligus menteri luar negeri. Yang ketiga, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya,” ujar Husein Abri Dongoran.

Fransisca Christy Rosana, wartawati Tempo, membenarkan informasi tersebut. Menurut dia, informasi tersebut tidak hanya beredar di kalangan relawan Jokowi. Tapi juga tersebar di kalangan pengurus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dipimpin Kaesang Pengarep, putra bontot Jokowi.

Menurut Rosana, para pengurus PSI mendengar informasi itu justru dari Jokowi. Para pengurus PSI, tutur Rosana, mengungkapkan bahwa Prabowo akan berpasangan dengan cawapres yang berlatar belakang tentara atau militer.

Daniel A Fajri, wartawan Tempo yang lain, juga mengaku telah mengkroscek kebenaran informasi tersebut. Ia mengaku berkomunikasi dengan Budi Arie, ketua Projo dan Andi Azwan, Ketua Militan Gibran Nusantara.

“Mereka juga mendengar informasi serupa bahwa nanti Prabowo tidak akan lagi berpasangan dengan Gibran,” ujar Daniel A Fajri.

Daniel juga mengaku telah mengecek ke pengurus Gerindra. Menurut dia, seorang pendiri Gerindra mengaku mendapat informasi bahwa Prabowo telah mengantongi tiga nama. Tokoh Gerindra itu menuturkan bahwa Prabowo memang telah menimbang untuk berpasangan dengan Sudaryono, Sugiono atau Teddy Indra Wijaya.

Tiga orang dekat Prabowo itu memang berlatar belakang militer. Sudaryono, misalnya, meski bukan militer aktif tapi memiliki latar belakang pendidikan di akademi militer Jepang. Ia lulusan National Defense Academy of Japan (Akademi Pertahanan Nasional Jepang).

Sedangkan Sugiono pernah berdinas di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dengan pangkat terakhir Letnan Satu (Lettu) sebelum memutuskan pensiun dini pada tahun 2004. Setelah keluar dari dinas militer, ia menjadi sekretaris pribadi Prabowo Subianto. Sekarang ia Sekjen Gerindra dan Menteri Luar Negeri.

Begitu juga Teddy Indra Wijaya. Ia adalah perwira menengah TNI Angkatan Darat yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Kabinet. Ia berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) Inf.

Menurut Husein Abri Dongoran, Tempo baru saja mengeluarkan hasil survei. Menurut dia, dari tiga nama itu hanya satu nama yang muncul dalam survei. Yaitu Teddy Indra Wijaya. Tapi angkanya kecil sekali. Tingkat elektabilitas Teddy hanya 1 persen.

Rosana juga mengaku pernah melihat hasil survei internal Gerindra. Menurut Rosana, dalam survei yang dilakukan Gerindra pada Juli 2026 itu ada satu pertanyaan, jika pemilu dilakukan hari ini, siapa pasangan yang paling cocok dengan Prabowo.

“Nah, nama Teddy Indrawijaya itu masuk, tapi angkanya 0,7 persen,” ujarnya.

Menurut dia, dalam survei internal Gerindra itu elektabilitas Dedi Mulyadi paling tinggi.

“Angka teratas Dedi Mulyadi dan di bawahnya itu Gibran Rakabuming Raka,” tambah Rosana.

Menurut Husein, kalau dilihat dari pengalaman selama ini, terutama sejak era SBY, tak pernah ada wakil presiden dua periode. Priode pertama SBY-JK, periode kedua SBY-Boediono. Begitu juga pada era Jokowi. Selalu berganti cawapres. Jokowi-JK. Lalu Jokowi-Ma’ruf Amin.

Lalu bagaimana dengan kubu Jokowi? Ayah Gibran itu masih berharap Prabowo berpasangan dengan putranya, Gibran.

“Kalau diajak,” kata Jokowi kepada Tempo.

Tapi Jokowi tak mempersoalkan jika Prabowo meninggalkan Gibran dan berpasangan dengan cawapres dari unsur militer.

Jokowi bahkan telah mengantisipasi perubahan politik Prabowo. Presiden dua periode itu secara diam-diam telah mencermati elektabilitas Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat. Elektabilitas Dedi Mulyadi cukup tinggi. Berdasarkan survey Tempo Data Science pada Agustus 2026, elektabilitas Didi Mulyadi sebaga calon presiden sebesar 42 persen.

“Sedangkan (elektabilitas) Prabowo 15 persen. Sementara tingkat keterpilihan Gibran sebagai calon presiden baru sekitar 6 persen,” tulis Tempo.

Karena itu Jokowi mulai membangun komunikasi dengan Dedi Mulyadi yang populer sebagai gubernur konten tersebut.

Bagaimana respons Dedi Mulyadi? “Saya mengikuti fatsun politik saja, keputusan politik partai menjadi kewenangan ketua umum,” ujar Dedi Mulyadi yang merupakan kader Gerindra.

Secara tegas Dedi mengaku belum berpikir Pilpres 2029, termasuk kemungkinan berduet dengan Gibran.

"Pokoknya tidak ada, hari ini saya berfokus bekerja aja memberikan yang terbaik. Kita belum mikir terlalu jauh," ujar Dedi Mulyadi.

"Mikir besok punya pacar atau tidak aja belum kepikiran," tambah Dedi Mulyadi yang hingga sekarang masih menduda.

Konstalasi politik capres-cawapres bakal seru. Dan tak tertutup kemungkin juga muncul capres dan cawapres lain. Misalnya dari kubu PDIP atau Demokrat dan Nasdem.

Bagaimana dengan PAN? Ketua Umum PAN Zulhas – panggilan Zulkifli Hasan – megaku tak akan maju capres. Hal  itu disampaikan Zulhas pada acara puncak HUT ke-28 PAN di JCC, Jakarta, Jumat 18 September 2026 lalu.

Semula,  Zulhas menyapa Ketum Golkar Bahlil Lahadalia. Ia mengaku dengan Bahlil sepakat kursi presiden sebaiknya tetap dipegang oleh Prabowo Subianto.

"Pak Bahlil sama saya sepakat, presiden biar Pak Prabowo saja Pak ya. Cocok?" ujar Zulhas dilansir detik.com.

Zulhas lalu menyapa Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang hadir dalam acara tersebut. Dia mengatakan dirinya, Bahlil, dan Cak Imin memiliki kesamaan sebagai pendukung cita-cita Prabowo.

"Pak Presiden, sebetulnya Gus Muhaimin, Pak Bahlil, kami sama Pak. Pendukung cita-cita Bapak Prabowo," ujar Zulhas.

"Cuma bedanya sedikit, Pak Bahlil sama saya mungkin nggak nyapres, kalau Pak Muhaimin masih mikir-mikir Pak," ujar Zulkifli Hasan kepada Prabowo.