Kemarau Terik Tak Menjamin Produksi Garam, Petani Sumenep Kesulitan Dapat Air Laut

SUMENEP,BANGSAONLINE.com - Cuaca kemarau yang terik seharusnya menjadi kondisi ideal bagi petani untuk meningkatkan produksi garam.

Namun, petani garam di Desa Kebun Dadap Timur, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura, justru menghadapi kendala pasokan bahan baku berupa air laut.

Petani garam setempat, Ikfan, mengatakan lahan garam di wilayah Kebun Dadap Timur dan Pinggir Papas, pesisir bagian selatan, mengalami kesulitan mendapatkan air laut. Kondisi tersebut terjadi karena jarak pasang air laut cukup jauh, sementara saat surut air semakin sulit dialirkan ke lahan produksi.

"Harapan kami di bulan September ini, hanya saat purnama selama empat malam air pasang cukup tinggi. Bagi yang punya lahan penampungan, bisa produksi maksimal," kata Ikfan.

Menurutnya, keberadaan lahan penampungan air laut menjadi sangat penting bagi petani. Petani yang memiliki tempat penyimpanan air masih memiliki kesempatan memanfaatkan air pasang untuk memenuhi kebutuhan produksi.

"Yang tidak punya lahan penyimpanan, ya pupus harapan," ujarnya.

Selain persoalan bahan baku, Ikfan menyebut harga garam rakyat saat ini berada di kisaran Rp1,2 juta per ton.

Harga tersebut menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan petani di tengah tantangan produksi akibat keterbatasan pasokan air laut.