Sedot 840 Pengunjung hingga Peneliti Belanda, Pameran Bojonegoro History Sukses Digelar

BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Pameran Temporer Bojonegoro History di Museum Rajekwesi sukses menggaet antusiasme publik. Selama tiga hari perhelatan, tercatat sebanyak 840 pengunjung memadati lokasi acara, termasuk di antaranya peneliti asal Belanda.

Founder Komunitas Bojonegoro History, Muhammad Andrea, mengungkapkan bahwa perhelatan ini sengaja dirancang untuk memantik kesadaran sejarah dan budaya masyarakat setempat.

"Tema Jejak Peradaban Bojonegoro sengaja diangkat untuk mengajak masyarakat menengok ke belakang sejarah dan kebudayaan Bojonegoro," kata Andrea, Senin (14/9/2026).

Pameran yang resmi ditutup pada Minggu (13/9/2026) ini tak sekadar menyajikan koleksi artefak dan materi edukatif. Panitia juga menyuguhkan rangkaian kegiatan interaktif berbasis sejarah dan seni.

"Misalnya seperti seminar sejarah, sarasehan budaya, walking tour, kelas menulis, literasi, arsip, riding memory lane, hingga kegiatan seni kreatif," jelasnya.

Pria yang akrab disapa Andre ini menambahkan, materi pameran mengulas berbagai topik krusial, mulai dari sejarah Kerajaan Jipang, Prasasti Maribong, dinamika jalur transportasi Sungai Bengawan Solo, hingga perkembangan peradaban Islam di Bojonegoro.

Selain itu, pengunjung diajak menyusuri tur sejarah di kawasan Kota Toea Padangan guna merekam memori kolektif warga.

Ke depan, Komunitas Bojonegoro History berkomitmen terus mengampanyekan literasi sejarah lokal serta memahami pendekatan antropologi masyarakat modern, khususnya generasi Z.

"Kami juga ingin menjadikan Museum Rajekwesi sebagai ruang yang hidup, terbuka, dan dapat menjadi tempat bertemunya masyarakat dengan sejarah, literasi, arsip, budaya, dan kreativitas," paparnya.

Daya tarik pameran ini terbukti mampu menjangkau lintas generasi dan negara. "Bukan hanya Gen-Z, generasi tua muda juga hadir di pameran ini. Bahkan ada juga peneliti asal Belanda turut berkunjung," ungkap Andre.

Acara ini turut dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah. Dalam sambutannya, Wabup mengajak seluruh pengunjung merenungkan kembali rekam jejak sejarah daerah, salah satunya peristiwa migrasi warga Bojonegoro ke Suriname pada 1890 silam.

"Jejak-jejak ini saya kira harus dilestarikan, agar milenial paham dan mengerti," ujar Wabup Nurul. (jku/rev)