Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong keterlibatan generasi muda dalam menggali, mengembangkan, dan mengimplementasikan potensi yang ada di desa.
Dalam kegiatan tersebut, Gus Afif juga berkesempatan melihat berbagai produk dan program hasil kreativitas siswa dari tiga sekolah, yakni SMKN 1 Jatirejo, SMKN 1 Dlanggu, dan SMKN 2 Kota Mojokerto.
Berbagai produk unggulan karya siswa diperkenalkan secara langsung. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan SMK tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga membekali siswa dengan keterampilan, kreativitas, dan kemampuan dalam membaca peluang.
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Mojokerto, Pinky Hidayati menyampaikan apresiasi terhadap kreativitas para siswa yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut.
Ia berharap para siswa mendapatkan ruang untuk mengembangkan keterampilan, termasuk dengan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan di desa.
"Anak-anak ini memiliki karya dan inovasi yang luar biasa. Kami berharap mereka diberikan kesempatan untuk berkreasi di luar sekolah, termasuk ke desa-desa. Mereka siap membaktikan ilmu yang sudah didapat di sekolah," ungkap Pinky.
Menurutnya, sebagian besar lulusan SMK memiliki keinginan untuk langsung bekerja atau berwirausaha, sementara sebagian lainnya memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Karena itu, Pinky meminta para siswa tidak ragu menyampaikan cita-cita, gagasan, dan harapan mereka agar dapat menjadi bagian dari pengembangan program ke depan.
"Kalian jangan malu dan jangan takut menyampaikan harapan serta cita-cita. Manfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan apa yang menjadi impian kalian," pesannya kepada para siswa.
Ia juga menegaskan bahwa Cabang Dinas Pendidikan Mojokerto siap berkolaborasi dengan pemerintah desa maupun pihak terkait dalam pengembangan program SMK Bisa, Desa Berdaya.
Kolaborasi tersebut termasuk mendukung kegiatan yang berkaitan dengan Hari Desa Nasional 2027 yang rencananya akan dilaksanakan di Kabupaten Mojokerto.
Sementara itu, Gus Afif dalam materinya menyampaikan bahwa program tersebut merupakan bagian dari semangat Program Cinta Desa dengan mengintegrasikan pendidikan, pembangunan, dan kearifan lokal untuk menyiapkan generasi masa depan Indonesia.
Menurut Gus Afif, generasi muda harus mulai mengubah cara pandang terhadap desa. Desa tidak boleh hanya dilihat sebagai tempat tinggal atau wilayah yang ditinggalkan ketika seseorang mencari pekerjaan di kota.
"Desa harus kita lihat sebagai masa depan. Kita ingin memastikan sumber daya manusia yang ada di desa mampu membaca potensi dan keunggulan dari masing-masing desanya," terang Gus Afif.
Ia menjelaskan bahwa melalui kolaborasi antara pendidikan dan pembangunan, siswa SMK dapat menjadi bagian dari proses pengembangan desa. Ilmu yang diperoleh di sekolah dapat diterapkan secara langsung untuk membantu masyarakat.
"Nantinya anak-anak bisa turun ke desa, melihat potensi yang ada, menyalurkan ilmu yang diperoleh selama di sekolah dan mengimplementasikannya di desa masing-masing," katanya.
Gus Afif juga mendorong siswa agar tidak selalu berpikir bahwa masa depan hanya tersedia di perkotaan. Menurutnya, desa memiliki ruang yang besar untuk bertumbuh, berkreasi, dan membangun usaha.
"Kita harus melihat desa sebagai ruang kehidupan yang sangat terbuka. Ruang untuk bertumbuh, untuk besar dan untuk berkreasi sangat banyak di desa," tuturnya.
Ia mencontohkan Kabupaten Mojokerto yang memiliki ratusan desa dengan berbagai potensi dan karakteristik masing-masing.
Gus Afif juga mengajak para siswa mulai berpikir jangka panjang. Mereka tidak hanya diminta memikirkan masa depan pribadi, tetapi juga bagaimana keberhasilan yang diraih nantinya dapat memberikan dampak bagi keluarga, sekolah, dan lingkungan desa.
"Leadership menentukan. SDM menentukan. Jangan berpikir desa saya tidak ada apa-apa. Cari peluang, lihat apa yang bisa dimunculkan dari desa, kemudian dikembangkan dan dikenalkan," pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Afif juga menyampaikan komitmennya untuk memberikan dukungan anggaran bagi SMKN 1 Jatirejo, SMKN 1 Dlanggu, dan SMKN 2 Kota Mojokerto dalam mendukung berbagai kegiatan siswa yang dilaksanakan di desa.
Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan pemerintah desa sehingga keterampilan serta inovasi para siswa dapat diterapkan secara nyata untuk membantu pengembangan potensi desa.
Peluncuran SMK Bisa, Desa Berdaya kemudian dilanjutkan dengan FGD bersama siswa-siswi dan jajaran guru.
Forum tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi sekaligus membahas peluang kolaborasi antara sekolah dan desa ke depan.
(ris/van)










