MONZA, BANGSAONLINE.com - Carlos Sainz ikut angkat bicara mengenai insiden perselisihan antara Charles Leclerc dan Lewis Hamilton pasca-balapan Grand Prix Formula 1 Italia di Sirkuit Monza. Berbekal pengalamannya membela Scuderia Ferrari, Sainz mencoba meredam ketegangan yang mulai menyelimuti dua pembalap Tim Kuda Jingkrak tersebut.
Sainz dan Leclerc pernah menjadi pasangan rekan setim di Ferrari pada kurun waktu 2021 hingga 2024. Posisinya kemudian digantikan oleh sang juara dunia tujuh kali, Lewis Hamilton, yang membuat Sainz berlabuh ke tim Williams untuk musim 2025.
Selama empat musim berada di garasi yang sama, persaingan Sainz dan Leclerc terbilang sangat ketat—Sainz mengumpulkan total 900,5 poin, sementara Leclerc meraih 1.029 poin. Rivalitas ketat ini tak jarang memicu friksi sengit di lintasan.
Salah satunya terjadi pada GP Spanyol 2024, di mana Sainz sempat menyindir Leclerc "terlalu banyak mengeluh" usai mobil keduanya bersenggolan saat bermanuver di Barcelona. Meski demikian, friksi tersebut selalu bisa diselesaikan secara internal. Pendekatan inilah yang disarankan Sainz untuk diterapkan oleh Leclerc dan Hamilton saat ini.
"Itu bukan urusan saya, tetapi saya bisa katakan bahwa ketika Anda memiliki dua rekan setim yang kompetitif, situasi seperti ini pasti akan terjadi," ujar Sainz saat ditemui di Madrid, Kamis.
"Saya dan Charles, dua atau tiga kali dalam setahun, kami pasti terlibat diskusi atau perdebatan kecil, tetapi setelah balapan atau keesokan paginya, kami akan saling menelepon dan menyelesaikannya," lanjutnya.
Menurut pembalap asal Spanyol tersebut, perselisihan merupakan hal yang wajar dalam tim papan atas yang saling berebut posisi terdepan.
"Jadi ya, menurut saya itu hal yang wajar ketika Anda bertarung memperebutkan podium atau kemenangan di tim yang kompetitif, dan ada situasi di tikungan pertama, situasi saat balapan, atau masalah strategi; pada akhirnya, suatu hari Anda mungkin tidak senang dengan cara penanganannya, namun di hari lain mungkin giliran Anda yang diuntungkan," jelasnya.
Ia menambahkan, keterbukaan antar pembalap adalah kunci utama dalam menjaga keharmonisan tim.
“Situasinya selalu sama dan saya tidak tahu bagaimana hal itu ditangani saat ini, tetapi ketika saya berada di Ferrari bersama Charles, kami selalu menyelesaikannya di antara kami sendiri, lalu melangkah maju, dan ya, kami menjalani masa-masa yang menyenangkan.”
Kronologi Insiden Monza dan Sentilan Hamilton
Insiden di Monza sendiri bermula saat Leclerc memepet Hamilton hingga keluar lintasan menuju area kerikil (gravel) pada awal balapan. Aksi tersebut membuat Leclerc (28)—yang kemudian mengalami kecelakaan di tikungan Parabolica pada lap kedua—bertahan di posisi ketiga, sementara Hamilton melorot jauh ke urutan 10.
Seusai balapan, Leclerc berupaya mendinginkan suasana dengan menyebut kedua belah pihak sama-sama bersalah dan "bertindak terlalu jauh". Namun, Hamilton secara tegas menolak narasi tersebut.
"Saya sudah berada di depan saat memasuki tikungan 2; saat mencapai titik puncak tikungan (apex), saya sudah memimpin. Tidak ada istilah 'kami' dalam situasi itu," tegas Hamilton.
Pembalap asal Inggris itu menekankan bahwa dirinya selalu menjunjung tinggi prinsip balapan yang bersih.
"Dengar, saya tidak membalap dengan cara kotor," tambahnya di Monza. "Saya selalu membalap dengan bersih dan adil, serta selalu memberikan ruang bagi pembalap lain."
"Saya bergabung dengan tim ini dengan niat menghormati ruang gerak dan pastinya tidak ingin membahayakan tim. Saya memegang teguh prinsip itu, dan saya hanya bisa bicara dari sudut pandang saya sendiri. Anda harus bertanya kepada Fred (Vasseur, kepala tim) mengenai sisi lainnya dan keputusan-keputusan yang diambil di sana," cecarnya.
Hamilton juga menyoroti peran kepemimpinan Frederic Vasseur dalam mengendalikan dinamika tim.
"Pada akhirnya, segalanya bermula dari pimpinan tertinggi. Keputusan-keputusan itu mengalir ke bawah. Semuanya dimulai dari Fred. Ada batas sejauh mana Anda bisa bicara, mendesak, atau berteriak lantang."
"Kemarin, saya bilang kita harus mengevaluasi cara kita berkomunikasi. Jika kita terus menempuh jalan yang sama, hasilnya pun akan sama. Kita terus mendapatkan hasil yang sama," kritik Hamilton.
Kritik Beruntun dan Ketiadaan 'Aturan Main'
Ketegangan di Monza hanyalah satu dari sekian deretan kritik yang dilontarkan Hamilton terhadap manajemen strategi Ferrari musim ini. Pada seri sebelumnya di Zandvoort, Belanda, ia juga sempat menyuarakan kekecewaannya karena tim tak kunjung memberikan team order saat ia membuntut tepat di belakang Leclerc.
Situasi tersebut dinilainya membuang peluang untuk mengamankan podium, hingga akhirnya ia harus puas finis di posisi keempat. Berbagai masalah internal ini turut berdampak pada posisi Ferrari yang kini tertinggal 122 poin dari mantan tim Hamilton, Mercedes, dalam papan klasemen konstruktor.
Sebagai pembanding, Hamilton merujuk pada pengalamannya saat membela Mercedes yang memiliki regulasi internal yang jelas.
"Menurut saya, ini semua kembali pada aturan main (rules of engagement)," ujar Hamilton. "Saat saya di Mercedes, kami memiliki aturan main tertulis."
"Situasi kami sebenarnya tidak pernah terlalu buruk. Mungkin ada beberapa momen yang melibatkan saya dan Nico [Rosberg]. Namun, lebih seringnya hubungan kami baik-baik saja. Di sini (Ferrari), tidak ada aturan," tutupnya.










