KUALA LUMPUR, BANGSAONLINE.com — Keputusan Formula 1 untuk membawa kembali balapan ke Malaysia tahun ini dengan tajuk "Grand Prix Bahrain" memicu beragam reaksi dari publik otomotif dunia, mulai dari rasa heran, bingung, hingga menggelitik.
Langkah ini terasa tak biasa, mengingat Sirkuit Internasional Sepang memegang status historis yang kuat. Didesain oleh arsitek kenamaan Hermann Tilke, Sepang merupakan sirkuit F1 modern pertama di Asia sekaligus salah satu trek paling dicintai penggemar. Meskipun Malaysia sempat menyetop kontraknya dengan Formula One Management (FOM) pada 2017, dorongan agar F1 kembali ke Sepang terus menggema, terutama di tengah maraknya tren sirkuit jalan raya (street circuit).
Lokasi Sepang yang sangat strategis—berada tepat di samping Bandara Internasional Kuala Lumpur—makin mempertegas kejanggalan penggunaan nama negara lain pada balapan di arena se-ikonik itu.
Namun, ekskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu situasi darurat. Kondisi tersebut membuat Bahrain terpaksa memindahkan lokasi balapan, tetapi tetap mempertahankan hak penamaan resmi atas ajang yang tidak bisa digelar di wilayah mereka sendiri.
Meski skema kerja sama antara Malaysia dan Bahrain ini terbilang unik, sejarah mencatat ini bukanlah kali pertama Formula 1 menggelar Grand Prix menggunakan nama negara yang berbeda dari lokasi sirkuitnya.
Jejak Sejarah Nama Pinjaman di F1
Grand Prix San Marino
Contoh paling terkenal dari anomali penamaan ini terjadi pada GP San Marino yang perdana digelar pada 1981. Meski mengusung nama negara enklave San Marino, balapan tersebut sebenarnya berlangsung di Sirkuit Imola, Italia.
Sirkuit Imola sendiri sempat menjadi tuan rumah GP Italia pada 1980 saat Monza direnovasi. Namun, ketika Monza kembali siap digunakan pada 1981, F1 membutuhkan nama baru untuk balapan di Imola agar tidak bentrok. Alhasil, nama San Marino dipilih. Menariknya, saat Imola kembali masuk kalender F1 pada era pandemi 2020, balapan ini berganti nama lagi menjadi GP Emilia Romagna. Praktis, Imola tercatat pernah menggelar F1 dengan tiga nama berbeda: GP Italia, GP San Marino, dan GP Emilia Romagna.
Grand Prix Luksemburg
Luksemburg tidak memiliki sirkuit permanen yang memenuhi kualifikasi F1; fasilitas yang mereka miliki utamanya digunakan oleh Goodyear untuk pengujian ban. Namun, pada medio 1990-an, nama GP Luksemburg sempat dua kali menghiasi kalender kejuaraan F1 (1997 dan 1998).
Kedua balapan tersebut nyatanya digelar di Sirkuit Nürburgring, Jerman, yang berjarak sekitar 80 km dari perbatasan Luksemburg. Langkah ini diambil saat kepopuleran Michael Schumacher memicu lonjakan antusiasme F1 di Jerman. Karena nama GP Jerman sudah dipakai oleh Sirkuit Hockenheim dan hak nama GP Eropa dialihkan ke Jerez pada 1997, Nürburgring akhirnya meminjam nama GP Luksemburg selama dua musim sebelum akhirnya kembali menggunakan nama GP Eropa pada 1999.
Grand Prix Swiss
Imbas tragedi nahas Le Mans 1955, Pemerintah Swiss memberlakukan larangan total terhadap ajang balap sirkuit demi alasan keselamatan. Larangan ini membuat Sirkuit Bremgarten di Bern terbengkalai dan lenyap ditelan alam.
Meski demikian, nama GP Swiss sempat dua kali muncul dalam ajang F1 tanpa pernah menyentuh tanah Swiss. Sebuah balapan non-kejuaraan berlabel GP Swiss diselenggarakan di Dijon, Prancis pada 1975. Lokasi yang sama kembali menggelar GP Swiss pada 1982 sebagai balapan resmi pemberi poin—momen bersejarah saat Keke Rosberg meraih satu-satunya kemenangan di musim yang mengantarkannya menjadi juara dunia bersama Williams. Larangan balap motor di Swiss baru sepenuhnya dicabut beberapa tahun terakhir setelah memberi porsi bagi balapan mobil listrik Formula E.
Kasus Khusus: GP Eropa 2016 di Baku
Selain peminjaman nama negara, F1 juga pernah mencatat anomali geografi pada GP Eropa 2016. Saat debut di jalanan Kota Baku, ajang tersebut diberi nama Grand Prix Eropa, bukan GP Azerbaijan.
Keputusan tersebut dinilai ganjil karena secara geografis Baku terletak di sebelah timur Pegunungan Kaukasus Besar yang masuk dalam wilayah Asia, serta rekam jejak nama GP Eropa yang sebelumnya selalu melekat pada sirkuit tradisional benua biru seperti Donington Park, Jerez, Nürburgring, dan Valencia. Nama tersebut akhirnya diubah menjadi GP Azerbaijan mulai musim 2017 hingga sekarang.










