Kabinet Bayangan, Media hingga Lembaga Survei Disebut Jadi ‘Kekuatan Kelima’ yang Gempur Prabowo

Ringkasan Berita
  • Advokat Munarman menyebut media, kampanye masif, lembaga survei, dan 'kabinet bayangan' sebagai kekuatan kelima yang terus menggempur Presiden Prabowo Subianto melalui opini publik.
  • Munarman menilai serangan opini tersebut membuat setiap kesalahan kecil Prabowo, terutama dalam pidato, mendapatkan kritik yang sangat keras dan bertubi-tubi.
  • Dia membandingkan bahwa tim Prabowo dinilai tidak seantisipatif tim Gibran-Jokowi, di mana Gibran disebut hanya sebagai 'aktor panggung' sedangkan Jokowi tetap bekerja di belakang layar.
  • Artikel juga mengangkat kembali isu lama bahwa Prabowo hanya akan menjabat 2-3 tahun sebelum digantikan Gibran, sebuah klaim yang pernah dilontarkan pengamat Connie Rahakundini Bakrie dan dibantah keras oleh tim kampanye Prabowo-Gibran.

SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Advokat publik Munarman menilai media, kampanye masif, lembaga survei, dan “kabinet bayangan” menjadi kekuatan kelima yang menggempur Presiden Prabowo Subianto melalui opini publik.

Menurut Munarman, kombinasi kekuatan tersebut membuat Prabowo kerap menghadapi serangan bertubi-tubi setiap kali melakukan kesalahan, terutama saat menyampaikan pidato.

"Nah, itu bagian yang saya lihat tadi kekuatan kelimanya kan. Ya, itu tadi media dan kekuatan masyarakat sipil tadi itu melalui media kampanye media yang sangat masif ya dengan peran sebagai goodcop tadi. Kemudian lembaga-lembaga surveinya ya kemudian apa namanya kritik-kritik ada kabinet bayangan sekarang ini kan," ujarnya dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Jumat (28/8/2026)

Munarman menilai kondisi tersebut membuat Prabowo terus menjadi sasaran serangan opini publik.

"Prabowo itu salah sedikit dia pasti akan digebukin habisan dalam konteks opininya kan dan banyak sekali. Dan itu tidak ada antisipasi menurut saya, tim Prabowo menurut saya tidak sesiap timnya Gibran-Jokowi," bebernya.

Ia menambahkan, Gibran dinilai hanya menjadi aktor di panggung, sementara Jokowi tetap bekerja di balik layar.

"Kalau saya kita sebutnya Gibran Jokowi lah karena Gibran ini cuma ininya aja kan aktor depannya, aktor panggungnya di belakangnya kan dia tetap bekerja seperti itu," tandasnya.

Sebagai informasi, isu bahwa Prabowo hanya akan menjabat selama 2–3 tahun sebelum digantikan Gibran kembali mencuat.

Isu tersebut pertama kali muncul menjelang pemungutan suara Pilpres Februari 2024 dan dilontarkan pengamat militer serta intelijen Connie Rahakundini Bakrie.

Connie mengklaim bahwa dalam pertemuannya dengan Rosan Roeslani, yang saat itu menjabat Ketua TKN Prabowo–Gibran, dirinya ditawari posisi wakil menteri sekaligus diceritakan mengenai skenario masa jabatan. Menurut klaim tersebut, Prabowo hanya akan memimpin selama 2–3 tahun sebelum digantikan Gibran.

Namun, Rosan membantah keras tuduhan tersebut dan bahkan melaporkan Connie ke Bareskrim Polri atas dugaan pencemaran nama baik. Pihak resmi menegaskan pasangan Prabowo–Gibran berkomitmen penuh menjalankan mandat rakyat sesuai konstitusi, yakni selama lima tahun penuh pada periode 2024–2029.