BANGKALAN, BANGSAONLINE.com-Acara bedah buku Diaspora Madura yang ditulis Prof Dr Abdur Rozaqi berlangsung gayeng. Acara yang digelar di Rumah Makan Bebek Sinjay Bangkalan Madura itu pada Ahad (23/8/2026) itu dihadiri para kiai, akademisi dan professional itu memantik munculnya banyak pemikiran dan temuan prilaku unik komunitas Madura di berbagai daerah, terutama di Kalimantan Barat.
Acara bedah buku yang dimoderatori M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE, itu menghadirkan tiga nara sumber. Yaitu Prof Dr Abdul Rozaqi, penulis buku yang juga Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, KH Masduki Badlowi, Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi Digital (Infokomdigi) dan Prof Dr Syafi’, Rektor Universitas Trunojoyo Madura.
Acara bedah buku ini diinisiasi oleh KH Syafik Rofii, dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan. Mantan Wakil Bupati dan Ketua DPRD Bangkalan ini sangat concern terhadap kemajuan Madura. Termasuk terhadap diaspora Madura.
Ia mengingatkan bahwa para diaspora Madura harus bijak mengingar berada di wilayan orang.
“Kata pepatah di mana bumi dipijak di sini langit dijunjung,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.
Dalam acara itu anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama sebagai keynote speaker dan Dr. M. Isa Anshori, ATD., MT Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Juga hadir KH Imam Bukhori (Ra Imam), KH Ali Kholil, KH Mundzir, KH Ja'far Shodiq, Dr Maksum, Firman Syah Ali, KH Fuad dan lainnya.
Menurut Abdul Rozaqi, pasca konflik etnis Madura-Dayak, kondisi ekonomi para diaspora di Kalimantan Barat sangat bervariasi. Mulai dari kelas bawah hingga kelas menenangah atas.
“Ada yang berpenghasilan Rp 20 miliar dalam satu bulan,” ujar Prof Abdul Rozaki sembari menegaskan bahwa ia merupakan generasi kedua diaspora Madura di Kalbar.
Menurut dia, secara sosial politik diaspora Madura di Kalimanyan Barat juga mengalami mobilitas veritikal. “Bahkan ada yang menjadi wakil bupati,” ujarnya. Itu berarti komunitas Madura diterima oleh warga setempat.
Dalam temuan Prof Rozaki, kehadiran pondok pesantren di Kalbar sangat membantu meredam konflik etnis. Paling tidak, ketika terjadi konflik mudah diredam.
“Konflik bisa ditahan karena ada pesantren. Dari pesantren ini kemudian membangun jaringan,” ujarnya.
Menurut dia, salah satu organisasi sosial yang sangat efektif menahan konflik adalah IKBM (Ikatan Keluarga Besar Madura).
“IKBM ini menjaga nilai kesantunan,” ujarnya.
Masduki Baidlowi menilai diaspora Madura memang selalu memunculkan dua sisi. “Yaitu sisi gelap dan sisi terang,” ujar alumnus Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan itu menanggapi pemaparan Prof Rozaki.
“Kadang ada yang mencari rezeki dengan bermodal kekerasan,” ujar Cak Duki – panggilan akrab Masduki Baidlowi.
Untuk mengatasi itu, menurut Cak Duki, pendidikan menjadi solusi utama.
“Perlu human capital yang baik,” ujar mantan Ketua PMII Kota Surabaya itu.
Menurut Cak Duki, para diaspora bisa menjadi kemajuan Madura jika diorganisasi secara baik oleh pemerintah. Ia memberi contoh India.
“Orang India banyak menjadi diaspora di Amerika dan Eropa tapi tidak kembali ke negaranya. Mereka menjadi warga Amerika dan Eropa,” ujarnya.
Meski demikian, tutur Cak Duki, mereka bisa menjadi kunci kemajuan India dengan kebijakan internal pemerintah India.
“Di sini (Madura) belum bisa karena pemerintahannya masih terpecah ke empat kabupaten,” ujarnya sembari mengatakan bahwa Madura perlu menjadi provinsi.
Menurut Prof Syafi’, orang Madura jika ada di perantauan sangat tangguh, ulet dan kompak.
“Tapi kalau ada di Madura sendiri struggle of lifenya tidak muncul, karena itu perlu diciptakan tantangan,” ujarnya.
Merespons rencana datangnya investor China ke Madura, Prof Syafi’sangat welcome. “Yang pentning legal, yang diproduksi barang halal dan ramah ekologis,” ujarnya.
Menyinggung soal Provinsi Madura Rektor UTM itu menilai perlu dua hal. Yaitu diusulkan sebagai wilayah khusus dan kajian kapasitas daerah. Menurut dia, selama ini yang ada hanya kajian akademik.
"Misalnya PAD Madura kalau ditotal berapa," ujarnya.
Namun Cak Duki skeptis jika kajian kapasitas daerah yang dikedepankan. Alasannya, kebupaten-kabupaten di Madura banyak yang merupakan kawasan tertinggal dan paling banyak orang miskinnya.
Forum bedah buku sangat hidup. Peserta antusias. Mereka langsung berebut mengacungkan tangan begitu sesi dialog dibuka.
Pada akhir acara M. Mas'ud Adnan selaku moderator menekankan pentingnya mengkoordinasi potensi diaspora di berbagai daerah. Menurut dia, banyak sekali putra Madura sukses baik secara intelektual, ekonomi maupun politik. Mereka punya potensi untuk menjadi triger kemajuan Madura .
"Seperti Pak Mahfud MD dan tokoh-tokoh Madura lainnya," ujarnya.










