Ringkasan Berita
- Parade Cikar Kediri digelar untuk kelima kalinya merayakan HUT ke-81 RI dengan 43 peserta, meningkat dari tahun sebelumnya.
- Kegiatan ini bertujuan melestarikan budaya transportasi tradisional dan mengingatkan publik pada potensi ekonomi peternakan sapi.
- Sebanyak 86 ekor sapi sehat jenis PO dan Brahman digunakan, setelah menjalani pemeriksaan kesehatan hewan untuk mencegah penyakit menular.
- Acara melibatkan masyarakat luas, termasuk 50 siswa SD yang mendapat edukasi produk peternakan dan pembagian 2.000 telur rebus sepanjang rute.
- Parade dinilai berdasarkan tiga kategori: performa sapi, kreativitas cikar, serta penggunaan aksesori dan muatan lokal produk pertanian Kediri.
KEDIRI, BANGSAONLINE.com – Parade Cikar di Kabupaten Kediri kembali digelar sebagai rangkaian peringatan HUT ke-81 RI pada Sabtu (22/8/2026). Tahun ini merupakan tahun kelima parade yang menggunakan sapi sebagai penarik cikar di Kediri.
Sebanyak 43 bajingan (orang yang menjalankan cikar) ambil bagian dalam parade ini. Jumlah tersebut bertambah dibanding pelaksanaan tahun sebelumnya yang hanya diikuti 40 peserta.
Parade dimulai dari depan Taman Totok Kerot, Dusun Kunir, Desa Bulupasar, pukul 10.00 WIB, melewati kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG), hingga finis di depan Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri.
Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, M. Solikin, mewakili Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengatakan, parade ini bukan sekadar kegiatan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus mengingatkan masyarakat terhadap keberadaan transportasi tradisional yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Ini sudah kelima kali. Niat dan tujuan kegiatan ini tidak sekadar melestarikan budaya, tetapi mengingatkan bahwa kita punya memori publik tentang transportasi,” kata Solikin saat menyampaikan sambutan.
Solikin juga menilai keberadaan sapi tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi memiliki nilai ekonomi yang besar. Menurutnya, sapi merupakan salah satu simbol kemakmuran masyarakat karena memiliki potensi ekonomi yang masih sangat dibutuhkan.
“Kebutuhan daging dan susu masyarakat hari ini sangat tinggi. Kita belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan tersebut,” jelasnya.
Karena itu, lanjut Solikin, Pemkab Kediri terus mendorong masyarakat untuk melihat peternakan sebagai salah satu potensi ekonomi. Parade cikar dan kontes sapi dinilai menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan potensi tersebut kepada masyarakat luas.
Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, mengatakan dari 46 cikar yang mendaftar, hanya 43 peserta yang akhirnya dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti parade.
Menurut Tutik, sebelum mengikuti kegiatan, sapi-sapi yang digunakan telah menjalani pemeriksaan kesehatan oleh petugas kesehatan hewan. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada indikasi penyakit hewan menular, mengingat parade berlangsung di ruang publik dan melibatkan masyarakat.
“Dari pendaftaran terakhir ada 46, kemudian setelah pemeriksaan ada tiga yang tidak memenuhi syarat sehingga yang ikut 43. Semua sapi kami cek kesehatannya,” jelas Tutik.
Dengan jumlah 43 cikar, setidaknya terdapat sekitar 86 ekor sapi yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Peserta berasal dari 10 kecamatan di Kabupaten Kediri.
Menurut Tutik, selain peternak dan komunitas pelestari cikar, Pemkab Kediri juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut merasakan langsung pengalaman menaiki transportasi tradisional tersebut.
“Sekitar 50 siswa dari SDN 1 Wonosari, Kecamatan Pagu turut dilibatkan dalam parade. Sebelum menaiki cikar, mereka mendapatkan edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi produk peternakan, mulai dari telur, daging hingga susu,” ucapnya.
Ditambahkan Tutik, DKPP Kabupaten Kediri juga membagikan sekitar 2.000 butir telur rebus kepada masyarakat yang berada di sepanjang rute parade. Pembagian tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan produk peternakan lokal kepada masyarakat.
“Temanya kali ini lebih melibatkan masyarakat umum secara langsung. Selain memperkenalkan cikar kembali, kami juga ingin menguatkan sektor peternakan di Kabupaten Kediri,” tutur Tutik.
Dalam parade tahun ini, peserta tidak hanya dinilai dari kondisi sapi. Ada tiga kategori penilaian, yakni performa sapi, kreativitas cikar, serta penggunaan aksesori dan muatan lokal, khususnya produk pertanian Kabupaten Kediri.
Tutik menjelaskan, sapi yang digunakan dalam parade mayoritas merupakan jenis Peranakan Ongole (PO) dan Brahman, termasuk beberapa hasil persilangan. Sapi-sapi tersebut telah dilatih sehingga mampu mengikuti perjalanan sekitar 5,5 kilometer.
"Ini bukan sapi ekstrem. Kalau terlalu ekstrem justru gerakannya terbatas. Yang digunakan ini ideal dan sudah sangat terlatih," jelasnya.
Tutik berharap keberadaan Parade Cikar dapat terus menjadi bagian dari upaya menguri-uri budaya Kabupaten Kediri. Dengan semakin banyak masyarakat yang terlibat, tradisi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi penerus.
"Harapannya, budaya-budaya yang ada di Kabupaten Kediri terus dilestarikan dan diuri-uri, supaya generasi sekarang juga tahu kebudayaan yang lampau," pungkasnya.
Salah satu peserta yang berhasil meraih juara pertama adalah Yudiono dari Desa Kunjang Kecamatan Ngancar. Ia mengaku sangat bahagia karena kembali berhasil menjadi juara dalam Parade Cikar Kabupaten Kediri.
"Alhamdulillah sangat senang dan bahagia sekali," kata Yudiono.
Menurut Yudiono, persiapan untuk mengikuti parade tidak membutuhkan waktu lama. Perhatian utama diberikan pada kondisi kesehatan sapi, sementara cikar yang digunakan kembali dirawat dan dicat agar tampil lebih menarik.
Untuk perawatan sapi sehari-hari, pihaknya memberikan vitamin ketika kondisi sapi kurang sehat, serta memenuhi kebutuhan pakan berupa comboran dan hijauan.
Kepala Desa Kunjang tersebut mengatakan cikar yang digunakan juga telah dirawat secara rutin. Salah satunya dengan memberikan penutup berupa terpal agar cikar terlindungi dari debu dan tetap terjaga kondisinya.
Ia berharap Parade Cikar Kabupaten Kediri dapat terus digelar setiap tahun. Menurutnya, keberlanjutan kegiatan tersebut penting bagi komunitas cikar sekaligus menjadi ruang untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda.
"Kami dari komunitas cikar yang ada di Kediri tetap mohon difasilitasi dan didampingi setiap tahun. Kalau bisa Parade Cikar terus diadakan," ujarnya.
Yudiono menambahkan, keberadaan parade tersebut membuat komunitas cikar tetap bersemangat merawat dan melestarikan peninggalan leluhur. (uji/msn)










