Ringkasan Berita
- Pemerintah Indonesia akan mendirikan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis untuk mengambil kendali penentuan harga komoditas dalam negeri, dengan target operasional 1 Januari 2027.
- Inisiatif ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada mekanisme harga yang dipengaruhi pihak asing, khususnya untuk komoditas strategis seperti batu bara, agar nilai ekonominya optimal bagi Indonesia.
- Bahlil menyebut regulasi pasokan yang diperketat pemerintah telah memperbaiki harga batu bara, yang mengindikasikan kemungkinan ada 'permainan' dalam mekanisme pasar sebelumnya.
- Bursa tersebut diharapkan menjadi instrumen untuk menciptakan acuan harga yang lebih mencerminkan kepentingan nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas global.
JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah ingin mengambil kendali lebih besar atas penentuan harga komoditas sumber daya alam Indonesia melalui Bursa Mineral dan Komoditas Strategis.
Pembentukan bursa tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto dan ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.
Bahlil mengatakan langkah itu diperlukan agar komoditas strategis yang dihasilkan Indonesia tidak terus bergantung pada mekanisme penentuan harga yang dipengaruhi pihak dari negara lain.
"Dengan bursa komoditas yang diperintahkan oleh Bapak Presiden itu, diharapkan seluruh komoditas sumber daya alam kita yang kita hasilkan dari negara kita, ya kita sendiri yang mengatur harganya. Masa barang-barang punya kita diatur oleh orang (negara) lain. Enak aja!" ujar Bahlil dalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Menurut Bahlil, posisi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil komoditas strategis semestinya diikuti kemampuan untuk menentukan harga yang mencerminkan nilai keekonomian komoditas tersebut.
Kebijakan itu, lanjut dia, ditujukan agar pengelolaan kekayaan alam Indonesia dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi negara dan masyarakat.
"Bapak Presiden Prabowo itu pengin agar seluruh kekayaan yang ada di dalam negara kita itu diatur seutuhnya oleh negara kita dengan harga keekonomian yang baik," sambungnya.
Bahlil kemudian menyinggung batu bara sebagai salah satu contoh komoditas yang harganya selama ini dinilai banyak dipengaruhi kondisi pasar global dan negara lain.
Padahal, Indonesia merupakan salah satu produsen besar batu bara sehingga pemerintah menilai perlu ada upaya untuk menjaga agar nilai ekonomi komoditas tersebut lebih optimal bagi Indonesia.
Untuk itu, pemerintah memperketat sekaligus mengatur pasokan guna menjaga keseimbangan antara supply dan demand.
Menurut Bahlil, kebijakan tersebut mulai berpengaruh terhadap pergerakan harga batu bara yang kini menunjukkan kondisi lebih baik.
"Begitu kita bikin pengetatan, menjaga supply and demand, harganya sekarang udah mulai bagus. Artinya, selama ini memang ada potensi permainan, kan?" kata Bahlil.
Meski demikian, pernyataan tersebut belum dapat diartikan sebagai bukti bahwa pemerintah telah menemukan praktik permainan harga yang dilakukan pihak tertentu.
Bahlil menyebut perbaikan harga setelah pasokan diatur sebagai indikasi adanya kemungkinan persoalan dalam mekanisme pasar yang sebelumnya berlangsung.
Melalui pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, pemerintah berharap posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas semakin kuat.
Instrumen tersebut nantinya diharapkan memberikan acuan harga yang lebih mencerminkan kepentingan nasional bagi berbagai komoditas strategis yang diproduksi di dalam negeri.










