Tafsir Al-Hajj 47: Isti'jal

Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie

Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.

Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 47. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.

47. Wa yasta‘jilûnaka bil-‘adzâbi wa lay yukhlifallâhu wa‘dah, wa inna yauman ‘inda rabbika ka'alfi sanatim mimmâ ta‘uddûn

Mereka (kaum musyrik Makkah) meminta kepadamu (Nabi Muhammad) agar azab itu disegerakan, padahal Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.

TAFSIR

Tiga tokoh kafir yang paling getol memusuhi Rasulullah SAW. Dialah Abu Jahal ibn Hisyam, pria berbadan kekar dan berperangai kasar. Dengan kekuasaannya, dia memusuhi beliau. Tak ubahnya dengan Abu Lahab, paman nabi yang memusuhi beliau dengan hartanya, juga al-Nadlr ibn al-Harits, memusuhi nabi dengan ilmu dan sastranya.

Terhadap apa yang disampaikan Rasulullah SAW terkait doktrin agama, surga, dan neraka, rahmat dan azab yang dijelaskan secara meyakinkan, dengan pongah Abu Jahal berkata menantang Tuhan: "Ya Tuhan, jika apa yang disampaikan Muhammad itu benar dari Engkau, turunkan azab dari langit. Hujani kami dengan batu, silakan".

Sedangkan al-Nadlr ibn al-Harits juga berkata senada menohok Nabi Muhammad SAW: "Jika saja apa yang kamu janjikan, yang kamu ancamkan itu benar, maka datangkan sekarang, buktikan sekarang juga jika kamu memang berkata benar."

"... Fa’tina bima ta’iduna in kunt min al-shadiqin".

Ayat kaji ini turun sebagai jawaban, hendaknya jangan begitu, jangan nantang-nantang Tuhan menurunkan azab, karena hal itu sangat mudah bagi Tuhan. Lagian janji Tuhan pasti ditepati. Perkara waktu itu soal kebijakan-Nya secara mutlak.

Penundaan azab tidak berarti Tuhan tidak berani, tidak berarti Tuhan tidak serius, melainkan karena rahmat, agar ada kesempatan bagi pendurhaka memperbaiki diri. Atau karena “imhal”, diakumulasikan dengan azab-azab yang lain, sehingga di akhirat nanti diberikan total dan sangat berat. Itu justru lebih parah. Dari sini kita bisa petik hikmah, antara lain:

Pertama, Isti’jal, meminta agar azab dan sebangsanya turun segera menimpa diri sendiri. Berdoa tertimpa musibah yang mencelakai diri sendiri. memohon kepada Tuhan agar segera diambil nyawanya. “ya Tuhan, segera matikan saya...”.

Inilah pengertian isti’jal perspektif ayat kaji ini. Motifnya, adakalanya karena tidak sanggup, tidak sabar atas penderitaan, sakit, dan sebangsanya yang menimpa dirinya. Atau, karena ingkar dan menantang-nantang Tuhan.

Untuk yang bagian akhir ini dilakukan oleh orang kafir sesuai konteks ayat dan jeles-jelas arahnya adalah pengingkaran kepada-Nya. Hal demikian mereka lakukan karena kecongkakan dan untuk membuktikan bahwa dirinya adalah kokoh nan digdaya ketimbang Tuhan.

Bagi mereka, Tuhan Allah SWT seperti yang diserukan oleh Rasulullah SAW itu tidak ada, omong kosong. Jika Tuhan tidak merespons, maka mereka semakin ingkar dan itu dijadikan dasar, bahwa Tuhan memang benar-benar tidak ada. Tapi jika direspons dan mereka menderita, itu pun belum tentu mau sadar dan beriman. Masih ada ada saja alasan. Seperti kebetulan, hukum alam, dll.

Lalu, bagi mereka yang menderita sakit berkepanjangan dan sangat berat sekali, tetap tidak boleh ber"isti’jal", meminta segera mati. Di sini, menyuntik mati penderita sakit yang tak ada harapan hidup tetap berhukum haram. Sama dengan hukum membunuh manusia. Yakinlah, Tuhan punya rahmat tersendiri bagi si dia. Dengan kesabarannya, maka dosa-dosanya sangat potensi diampuni.

Lalu, agama memberi panduan doa yang ittikal, berserah total kepada kebijakan Tuhan. Yang umum, redaksinya begini: Ya Tuhan, jika sehat lebih baik bagi saya, dunia dan akhirat nanti, maka mohon segera sehatkanlah saya. Tapi jika mati lebih baik bagi saya, maka mohon ambil nyawa saya atas ridla Engkau. “Wa tawaffana wa Anta Radl ‘anna”.