Oleh: Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie
Rubrik Tafsir Al-Quran Aktual ini diasuh oleh pakar tafsir Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i, Mudir Madrasatul Qur'an Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Kiai Musta'in selain dikenal sebagai mufassir mumpuni juga Ulama Hafidz (hafal al-Quran 30 juz). Kiai yang selalu berpenampilan santai ini juga Ketua Dewan Masyayikh Pesantren Tebuireng.
Tafsir ini ditulis secara khusus untuk pembaca HARIAN BANGSA, surat kabar yang berkantor pusat di Jl Cipta Menanggal I nomor 35 Surabaya. Tafsir ini terbit tiap hari, kecuali Ahad. Kali ini Kiai Musta’in menafsiri Surat Al-Hajj': 45. Selamat mengaji serial tafsir yang banyak diminati pembaca.
45. Fa ka'ayyim ming qaryatin ahlaknâhâ wa hiya dhâlimatun fa hiya khâwiyatun ‘alâ ‘urûsyihâ wa bi'rim mu‘aththalatiw wa qashrim masyîd
Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)-nya dalam keadaan zalim sehingga bangunan-bangunannya runtuh dan (betapa banyak pula) sumur yang ditelantarkan serta istana tinggi (yang ditinggalkan).
TAFSIR
Ayat kaji ini mengunggah monumen bersejarah dari peristiwa masa lampau yang kelam dan durhaka. Sebelumnya dituturkan bahwa Tuhan membicarakan soal umat terdahulu yang mendustakan nabi mereka. Seperti kaum Nabi Nuh A.S., kaum ‘Ad, Tsamud, kaum Nabi Ibrahim A.S., kaum Nabi Luth A.S. dan seterusnya.
Lalu, diingatkan bahwa dahulu ada negeri yang dibinasakan hingga berpuing-puing. Ada sumur bersejarah yang kosong tak berguna (bi’r mu’attalah), ada gedung kokoh yang kemudian rusak berantakan (qashr masyid). Semua itu gara-gara penduduknya zalim dan tak patuh dan durhaka.
Panjang banget al-Qurthuby menjelasankan sejarah benda-benda peninggalan tersebut. Negeri, sumur, dan gedung tua itu diduga ada di Hadramaut, Yaman Timur. Semula: negeri, sumur, gedung itu sangat dibanggakan pada zaman keemasannya. Lalu dihancurkan dan dijadikan monumen sebagai peringatan bagi generasi berikutnya agar tidak mengulangi perbuatan yang serupa.
Inilah Al-Qur’an yang memberi panduan bagaimana membaca sejarah dan memahami monumen. Tidak sekadar tempat rekreasi, melainkan sebuah ruang belajar yang efektif, mengena, dan nyata.
Prestasi akademik, keunggulan berkreasi, dan kemajuan budaya adalah prestasi yang mesti diburu dan dicari. Tapi itu saja tidak cukup. Harus ada kelngkapan moral dan sikap kesopanan di hadapan Tuhan sang Pencipta.
Arogansi akan membuyarkan itu semua dan kecongkakan akan membinasakan diri sendiri. Tidak hanya itu, semua prestasi yang pernah diraih dengan susah payah menjadi terkubur dan tak lagi bermakna.
Inilah panduan ketika kita rekreasi ke Borobudur, ke candi-candi bersejarah. Bukan sekadar dikagumi kehebatan mereka membuat patung dan membangun stupa. Tapi hikmah apa yang mesti dipetik dari ziarah itu.
Setidaknya soal keimanan dan perilaku. Sayang, para seniman dan budayawan terdahulu para umumnya masih animistis dan belum tercerahkan dengan cahaya keimanan, sehingga karyanya yang monumental tidak bisa memberi manfaat bagi dirinya di hadapan Tuhan nanti.










