SILVERSTONE, BANGSAONLINE.com - Rider Aprilia Racing, Marco Bezzecchi, untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui bahwa penurunan performa drastis sepanjang jeda musim panas sempat mengganggu stabilitas mentalnya. Rentetan hasil buruk dan insiden di lintasan memicu siklus pikiran berlebihan (overthinking) yang membebani pikirannya.
Fase kelam pembalap asal Italia ini bermula saat gelaran GP Hungaria, di mana ia tersingkir akibat tabrakan beruntun di lap pembuka yang melibatkan rekan setimnya, Jorge Martin. Meski tampil dalam kondisi menahan rasa sakit, Bezzecchi kembali terjatuh pada laga sprint di Brno. Rasa frustrasi yang membuncah membuatnya sempat mendorong seorang marshal, yang berujung pada sanksi larangan membalap pada balapan utama GP Ceko.
Nasib sial Bezzecchi belum berakhir. Ketika motor Aprilia tampil kompetitif di barisan depan sirkuit Assen, Bezzecchi justru mengalami kecelakaan hebat saat balapan hari Minggu. Puncaknya, insiden kecelakaan pada sesi kualifikasi GP Jerman menjadi pukulan telak yang memaksa dirinya dilarikan ke rumah sakit.
Sebelumnya, Bezzecchi sempat membeberkan perjuangannya menjalani dua tindakan operasi di kampung halaman serta rasa sakit luar biasa yang harus ia tahan saat kembali mengaspal di GP Inggris pekan lalu.
Kini, ia memberikan gambaran gamblang mengenai beban psikologis yang menghimpitnya di tengah badai cedera dan minimnya perolehan poin.
Ketika ditanya apakah ia sempat meragukan kapasitas dirinya selama kurun waktu yang berat tersebut, Bezzecchi memberikan jawaban jujur.
"Situasinya berat. Jujur saja, setelah Mugello, saat kami pergi ke Balaton, kami mengawali akhir pekan dengan sangat baik. Meskipun sempat kesulitan, saya mampu menampilkan performa yang cukup bagus," urainya.
"Lalu di balapan sprint, saya melakukan start yang sangat bagus, yang memberi saya peluang untuk bertarung dan meraih podium. Tentu saja, setelah itu, pada balapan utama, kesalahan saat start dan kecelakaan hebat yang terjadi membuat saya mengalami cedera ringan."
"Jadi setelah itu, segalanya mulai terasa lebih sulit. Kesalahan saya di Brno, lalu kecelakaan sangat hebat di Assen—itu mungkin menjadi momen yang sangat berat secara fisik; meskipun hanya satu tulang rusuk yang patah, seluruh tubuh saya terasa hancur."
Kondisinya makin memburuk saat menyambangi Jerman. “Lalu, di Sachsenring, saya tampil kompetitif, namun sebuah kesalahan berujung pada cedera ganda."
"Jadi, itu bukanlah masa yang menyenangkan, tetapi untungnya keluarga, teman-teman, dan seluruh staf akademi [VR46]—mulai dari Vale—terus mendampingi saya; begitu pula dengan tim saya," kenangnya.
Di tengah tekanan yang berulang, Bezzecchi bersyukur memiliki ekosistem pendukung yang kuat untuk membantunya keluar dari jebakan pikiran negatif.
“Itu adalah masa yang berat. Saat mengalami situasi seperti ini, saya yakin mereka [Martin dan Raul Fernandez] sangat paham bahwa ada begitu banyak hal yang berkecamuk di pikiran dan sulit untuk berhenti memikirkannya. Namun pada akhirnya, saat kita mengenakan helm, rasanya seperti saat kita memasang penyumbat telinga. Rasanya sungguh luar biasa.”
Momen Kebangkitan di Silverstone
Meski keterbatasan fisik akibat kurangnya kekuatan tubuh bagian atas serta fleksibilitas lutut belum pulih 100 persen, Bezzecchi tampil impresif di GP Inggris. Ia mengamankan posisi start baris kedua dan mengonversinya menjadi raihan ganda podium pada balapan sprint dan balapan utama.
Podium tiga besar pada hari Minggu tersebut menjadi yang pertama baginya sejak GP Mugello akhir Mei lalu. Hasil ini sekaligus mengatrol posisinya kembali ke peringkat kedua klasemen sementara, berjarak 31 poin dari Jorge Martin yang memimpin puncak klasemen.
“Secara keseluruhan, ini adalah momen kebangkitan yang sangat bagus,” tutur Bezzecchi kepada MotoGP.com. “Setelah Mugello, secara umum itu adalah masa yang sulit, termasuk saat jeda musim panas. Namun, kini semua itu sudah berlalu."
“Menurut saya, kami telah bekerja dengan baik selama masa ini. Kami tidak pernah menyerah dan kini berhasil bangkit kembali."
Fokusnya kini tertuju pada pemulihan kebugaran tubuh sebelum menghadapi seri berikutnya.
“Saatnya untuk sedikit beristirahat dan memulihkan kondisi dengan baik, terutama terkait persiapan fisik, karena itulah yang sebenarnya kurang optimal bagi saya di akhir balapan, selain masalah rasa sakit."
Ia juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim serta rekan-rekan sesama penunggang Aprilia.
“Tapi ya, saya sangat bahagia. Tim layak mendapatkan hasil ini. Saya juga ikut senang untuk Jorge. Dia menjalani akhir pekan yang luar biasa. Dia sulit dikalahkan. Dia akan selalu menjadi lawan yang tangguh, namun dia juga menjadi motivasi besar bagi saya."
“Saya juga senang untuk seluruh tim Aprilia, termasuk Raul. Ai [Ogura] juga selalu tampil kompetitif, meskipun hari ini dia sempat melakukan kesalahan. Mereka melakukan pekerjaan hebat dan saya hanya berusaha untuk bisa seperti mereka,” pungkaspnya.










