Cowo Bingung, Cermin Maskulinitas Modern

BANGSAONLINE.com - Istilah “cowo bingung” belakangan ramai digunakan anak muda untuk menggambarkan laki-laki yang mengaku ingin hubungan serius, tetapi tetap mencari perhatian dari perempuan lain.

Fenomena ini tidak sekadar soal komitmen, melainkan terkait dengan konstruksi maskulinitas dan kebutuhan validasi sosial.

Di media sosial, banyak cerita tentang laki-laki yang sudah memiliki pasangan namun masih aktif memberi likes, komentar, hingga mengirim pesan pribadi kepada perempuan lain. Ketika ditanya, alasan yang muncul beragam, mulai dari 'cuma cari teman' hingga 'iseng saja'.

Sosiolog R.W. Connell dalam Masculinities (1995) menjelaskan bahwa maskulinitas adalah konstruksi sosial yang dibentuk melalui relasi gender. Konsep hegemonic masculinity menunjukkan standar maskulinitas ideal yang dihargai masyarakat pada waktu tertentu.

Di era media sosial, standar ini bergeser: laki-laki didorong untuk terlihat menarik dan diinginkan, sehingga validasi eksternal menjadi penting.

Fenomena 'cowo bingung' muncul ketika hubungan romantis bergeser dari membangun kedekatan menjadi ajang pembuktian diri. Selama nilai diri bergantung pada pengakuan orang lain, pasangan sering merasa tidak cukup.

Meski tidak berlaku bagi semua laki-laki, fenomena ini menunjukkan bagaimana konstruksi maskulinitas memengaruhi cara sebagian pria memaknai hubungan. Hubungan sehat seharusnya dibangun atas dasar kepercayaan, bukan sekadar pencarian validasi.

Perubahan pola ini tidak hanya tanggung jawab individu, tetapi juga dipengaruhi keluarga, sekolah, media, dan budaya populer. Maskulinitas yang lebih sehat menekankan penerimaan diri, pengendalian emosi, serta komitmen yang setara dalam hubungan. (mg2/rom)