SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Salah satu isu penting menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) adalah posisi Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa). Maklum, lembaga ad hoc yang memilih para kiai berpengaruh itu sangat determinan atau menentukan terhadap kepemimpinn NU ke depan. Sembilan kiai yang masuk Ahwa itulah yang akan menentukan atau memilih pucuk pemimpin tertinggi jam’iyah diniyah ijtima’iyah Nahdlatul Ulama itu. Yaitu Rais ‘Aam Syuriah PBNU.
Lalu butuh berapa suara untuk posisi Rais ‘Aam Syuriah PBNU? Itulah yang unik sekaligus khas dalam tradisi pemilihan pemimpin tertinggi di NU.
Pemilihan Rais ‘Aam Syuriah PBNU tidak ditentukan oleh suara tertinggi atau terbanyak. Juga tidak ditentukan oleh hirarki jenjang kepangkatan dan jabatan. Beda sekali dengan pemilihan kepala negara atau kepala daerah dan pemilihan pemimpin lainnya.
Dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 22-24 Desember 2021 peraih suara terbanyak adalah KH Dimyati Rois. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fadlu Kaliwungu Kendal Jawa Tengah itu mendapat 503 suara. Tapi Mbah Dim – panggilan akrab Ketua Dewan Syuro DPP PKB periode 2019-2024 itu - tidak bersedia dipilih sebagai Rais ‘Aam Syuriah PBNU. Mbah Dim wafat pada Jumat 10 Juni 2022.
Kiai yang memperoleh suara terbanyak kedua adalah KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang Jawa Tengah itu memperoleh 494 suara.
Tapi Gus Mus juga tidak bersedia dipilih sebagai Rais ‘Aam Syuriah PBNU. Gus Mus memang kiai yang “konsisten” tidak bersedia sebagai Rais ‘Aam Syuriah PBNU. Dalam Muktamar ke-33 NU di alun-alun Jombang pada 1-5 Agustus 2015 Gus Mus juga menolak dipilih sebagai Rais ‘Aam.
Ia hanya bersedia sebagai Wakil Rais ‘Aam Syuriah PBNU. Saat itu Rais ‘Aamnya adalah KH Ma’ruf Amin. Namun saat Kiai Ma’ruf Amin terpilih sebagai Wakil Presiden RI, mau tidak mau Gus Mus jadi pejabat Rais ‘Aam Syuriah PBNU.
Kiai peraih suara terbanyak ketiga Ahwa dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung adalah KH Ma’ruf Amin. Namun saat itu Kiai Ma’ruf Amin sedang menjabat Wakil Presiden. Ototmatis beliau juga tak bersedia.
Kiai yang mendapat suara terbanyak keempat Ahwa dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung adalah KH Anwar Manshur. Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur itu mendapat 408 suara.
Tapi beliau juga tak bersedia menjabat Rais ‘Aam Syuriah PBNU. Padahal saat itu Kiai Anwar Manshur juga menjabat Rais Syuriah PWNU Jawa Timur. Hingga sekarang.
Sedangkan kiai peraih suara terbanyak kelima Ahwa dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung adalah Tuan Guru H Turmudzi Badaruddin. Pengasuh Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB) mendapat 403 suara. Tapi Kiai Turmudzi juga tak bersedia dipilih sebagai Rais ‘Aam Syuriah PBNU.
Jadi lima kiai kharismatik dan berpengaruh peraih suara terbanyak suara Ahwa dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung itu semuanya menolak didipih sebagai Rais ‘Aam Syuriah PBNU.
Satu-satunya kiai yang bersedia dipilih sebagai Rais ‘Aam Syuriah PBNU adalah KH Miftachul Akhyar. Pengasuh Pondok Pesanren Miftchussunnah Kedung Tarukan Surabaya itu mendapatkan 395 suara dalam pemilihan Ahwa Muktamar ke-34 NU di Lampung.
Sementara peraih suara terbanyak berikutnya adalah KH Nurul Huda Djazuli. Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri Jawa Timur itu mendapat 385 suara Ahwa. Kemudian TGH Ali Akbar Marbun. Pengasuh Pondok Pesantren Al Kautsar Al Akbar Medan Sumatera Utara mendapat 308 suara Ahwa.
Urutan kesembilan kiai peraih suara Ahwa terbanyak adalah KH Zainal Abidin yang mendapat 272 suara Ahwa.
Inilah data lengkap anggota Ahwa terpilih pada Muktamar ke-34 NU di Lampung:
(1) KH Dimyati Rois dengan perolehan suara 503
(2) KH Ahmad Mustofa Bisri dengan perolehan 494 suara
(3) KH Ma’ruf Amin dengan perolehan 458
(4) KH Anwar Manshur dengan perolehan suara 408
(5) TGH Turmudzi Badaruddin dengan perolehan suara 403
(6) KH Miftachul Akhyar dengan perolehan suara 395
(7) KH Nurul Huda Jazuli dengan perolehan suara 385
(8) KH Ali Akbar Marbun dengan perolehan suara 309
(9) KH Zainal Abidin dengan perolehan suara 272










