JAKARTA, BANGSAONLINE.com – Presiden Prabowo Subianto dikabarkan marah dan kecewa dalam kasus penindakan korupsi yang melibatkan Febrie Ardiansyah, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus. Sedemikian marahnya bahkan Prabowo sempat mau mencopot Jenderal Listyo Sigit dari posisinya sebagai Kapolri.
Tapi, menurut laporan Tempo terbaru, meski Presiden Prabowo Subianto sangat marah dan kecewa terhadap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tapi ia dikabarkan tak bisa berbuat apa-apa. Prabowo tidak berani memecat Listyo Sigit. yang disebut-sebut sebagai orangnya Jokowi.
“Tiga nara sumber – seorang merupakan orang dekat Prabowo dan seorang lainnya kolega Listyo menuturkan, Presiden bimbang ketika menyinggung penggantian Kepala Polri dalam rapat di rumah dinas Widya Chandra pada Jumat malam, 10 Juli 2026,” tulis Tempo dalam laporan utamanya.
Padahal, Presiden Prabowo sudah sempat bertanya siapa kandidat perwira tinggi yang layak menggantikan Listyo Sigit.
Menhan Jenderal TNI (Purn) Syafrie Syamsoeddin, menurut sejumlah sumber yang dikutip Tempo, mengusulkan nama Kepala Badan Pemelihara Keamanan Polri Komisaris Jenderal Karyoto untuk menggantikan Listyo Sigit.
Bahkan Syafrie menyebutkan bahwa Jenderal Karyoto sudah berada di sekitar rumah dinas Presiden, yaitu di Widya Chandra, yang menjadi lokasi pertemuan Presiden Prabowo. Artinya, sewaktu-waktu dipanggil Presiden Prabowo sudah siap menghadap.
Tapi seusai rapat, ada orang dekat Prabowo yang memberi tahu bahwa Karyoto adalah besan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
“Mendengar informasi kekerabatan itu, Prabowo menceletuk bahwa Karyoto bisa jadi lebih dekat dengan Dedi Mulyadi jika diangkat menjadi Kapolri,” tulis Tempo edisi 20-26 Juli 2026.
Padahal dalam sejumlah survey, elektabilias Dedi Mulyadi sebagai calon presiden kini bersaing dengan Prabowo. Bahkan kabarnya lebih tinggi dari Prabowo.
Kasus batalnya Prabowo mencopot Listyo Sigit dikabarkan juga terkait dengan manuver politik Sufmi Dasco Ahmad, orang dekat Prabowo. Dasco, selain menjabat Wakil Ketua DPR RI juga Ketua Harian Partai Gerindra.
Dasco disebut-disebut sangat dekat dengan Jenderal Listyo Sigit. Kabarnya Dasco inilah yang "menyelamatkan" Listyo Sigit, sehingga ia menjadi perwira polisi terlama menjabat Kapolri.
Dasco juga disebut-sebut sebagai rival politik Menhan Syafrie Syamsoddin dalam lingkaran Prabowo. Termasuk di lingkaran Partai Gerindra. Saat Prabowo mau mengangkat Syafrie sebagai Sekjen Partai Gerindra, Dasco inilah yang disebut-sebut "membelokkan" arah politik Prabowo sehingga mengangkat Sugiono sebagai sekjen Gerindra.
Dasco memang dikenal sebagai politisi ulung. Selain kaya juga piawai sebagai pelobi.
Sejatinya desakan terhadap Prabowo agar segera mengganti Listyo Sigit dari kursi Kapolri sangat masif dan kencang. Terutama dari kalangan kelompok sipil. Tapi sampai sekarang Presiden Prabowo tak punya keberanian.
Alih-alih mengganti Kapolri, Prabowo malah menandatangani hasil revisi Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia (UU Polri) yang menetapkan batas usia pensiun perwira tinggi bintang empat (Kapolri) menjadi 60 tahun. Aturan baru ini juga memberikan wewenang kepada Presiden untuk memperpanjang masa jabatan Kapolri sesuai dengan kebutuhan atau permintaan.
Dengan ketentuan ini, posisi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bisa menjabat hingga tahun 2029 atau terselenggaranya Pilpres. Bahkan juga berpotensi diperpanjang lagi sesuai dengan kewenangan Presiden.










