LAMONGAN,BANGSAONLINE.com - Sejumlah pedagang daging sapi di Kabupaten Lamongan menghentikan sementara aktivitas berjualan sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga daging sapi yang terus terjadi dan dinilai semakin membebani pedagang maupun konsumen.
Dampaknya, suasana di sejumlah pasar tradisional di Kecamatan Lamongan, seperti Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made, tampak berbeda dari biasanya. Kios-kios pedagang daging sapi tutup tanpa aktivitas jual beli.
Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Sidoharjo, Bagus Budi Raharjo, mengatakan keputusan meliburkan aktivitas jual beli diambil setelah para pedagang menerima informasi adanya kenaikan harga dari pedagang sapi hidup dan rumah pemotongan.
"Kami mendapat informasi dari pedagang sapi hidup dan sapi potongan bahwa akan ada kenaikan harga lagi. Ini merupakan kenaikan yang kelima sepanjang tahun 2026," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan, harga daging sapi bagian sampil kategori medium yang pada Januari 2026 masih berkisar Rp110 ribu per kilogram kini telah naik menjadi sekitar Rp130 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut, menurut Bagus, menempatkan pedagang pada posisi yang sulit karena harus menyesuaikan harga jual di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
"Paguyuban pedagang daging berkumpul untuk mencari solusi. Karena banyak pelanggan mengeluhkan harga yang terus naik, kami sepakat libur selama tiga hari agar lebih tenang secara psikologis. Bulan Juni kemarin harga juga baru naik," katanya.
Para pedagang berharap harga sapi hidup kembali stabil sehingga pasokan dan harga daging di tingkat konsumen dapat kembali normal.
Mereka juga berharap penghentian sementara aktivitas berjualan ini menjadi perhatian pihak terkait mengingat fluktuasi harga daging sapi berpengaruh terhadap daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha pedagang pasar tradisional.
Kenaikan harga daging sapi juga dirasakan pelaku usaha kuliner, terutama penjual bakso yang menggunakan daging sapi sebagai bahan baku utama. Pemilik Bakso Unggulan Cak Suin di depan SMP Negeri 1 Lamongan, Khoirul, mengaku terus memantau perkembangan harga daging yang terus meningkat.
"Kemarin sesudah hari raya harga daging Rp125 ribu per kilogram, lalu naik lagi menjadi Rp130 ribu. Sampai kemarin harganya masih Rp130 ribu," kata Khoirul.
Ia mengatakan kenaikan harga bahan baku membuat pelaku usaha bakso berada dalam posisi dilematis.
Jika harga jual dinaikkan, dikhawatirkan pelanggan akan berkurang. Sebaliknya, jika harga tetap dipertahankan, keuntungan usaha akan terus tergerus akibat meningkatnya biaya produksi.
Selain harga daging, sejumlah kebutuhan lain seperti tepung juga mengalami kenaikan. Sementara itu, pelaku usaha tetap harus menanggung biaya operasional dan membayar upah pekerja.
"Otomatis pedagang-pedagang, terutama warung seperti kami juga bingung. Mau menaikkan harga jual takut pelanggan keberatan, tapi kalau tidak dinaikkan juga bingung mengatur keuangan," ujarnya.
Terkait keputusan pedagang daging sapi menghentikan sementara aktivitas berjualan, Khoirul mengaku telah mengantisipasinya dengan menyiapkan stok daging untuk kebutuhan usahanya selama tiga hari.
"Kami sudah mengamankan stok untuk tiga hari. Setelah itu belum tahu nanti harganya jadi berapa. Kami menunggu informasi dari penjual daging. Harapan kami semoga harga tidak terus naik supaya pedagang kecil bisa tetap bertahan," katanya.
Baik pedagang daging sapi maupun pelaku usaha kuliner berharap harga sapi hidup segera kembali stabil sehingga harga daging di pasaran berangsur normal. (van)










