Latber Perdana Anker Kediri Raya Diikuti 80 Peserta, Bidik Kontes Nasional pada Desember

KEDIRI,BANGSAONLINE.com - Komunitas Anthurium Kediri Raya (Anker) menggelar Latihan Bersama (Latber) Anthurium yang dirangkai dengan lelang tanaman di rumah salah satu penghobi anthurium, Dawam, di Desa Pagu, Kecamatan Wates, Minggu (19/7/2026).

Latber perdana tersebut diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai daerah, mulai Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, hingga Nganjuk.

Penasehat Komunitas Anker, Eikfak Safawi atau Ipok, berharap kegiatan itu dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap anthurium sekaligus menggerakkan perekonomian para penghobi.

"Ini merupakan latber perdana. Ke depan kami ingin menggelarnya secara rutin dan apabila antusiasme terus meningkat, kami menargetkan bisa menyelenggarakan kontes anthurium tingkat nasional di Kediri pada Desember 2026," katanya, Minggu (19/7/2026).

Saat ini, kata Ipok, Komunitas Anthurium Kediri Raya memiliki lebih dari 100 anggota yang berasal dari Kota dan Kabupaten Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Nganjuk, serta sejumlah daerah di sekitarnya.

Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mempererat silaturahmi antarpecinta tanaman hias dan mendorong perkembangan anthurium di wilayah Kediri Raya.

Ipok menjelaskan, latber tidak hanya menjadi sarana silaturahmi, tetapi juga wadah adu kualitas tanaman anthurium antarpenghobi.

Menurut dia, panitia menyediakan total hadiah senilai Rp1,6 juta, disertai sertifikat dan uang pembinaan bagi para pemenang.

"Ada empat kategori yang dipertandingkan dalam kegiatan ini, yakni Hookeri Pink Junior (0–15 cm), Hookeri Pink Senior (15 cm ke atas), Hookeri Variegata All Size, dan Anthurium Mix All Size," ucap Ipok.

Adapun juara pertama masing-masing kategori diraih Abdul Kowim untuk Hookeri Pink Junior, Samsul Ma'arif untuk Hookeri Pink Senior, M. Nur Kolik untuk Hookeri Variegata, dan Eikfak Safawi (Ipok) untuk kategori Anthurium Mix.

"Setiap peserta yang ikut lomba, dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp25 ribu per tanaman. Setiap tanaman yang dilombakan wajib memiliki minimal enam daun dan menggunakan topping media tanam seperti pasir malang. Penilaian dilakukan oleh dewan juri dengan keputusan yang bersifat mutlak," tutup Ipok.

Salah satu peserta sekaligus juara kategori Hookeri Pink Junior, Abdul Kowim, mengatakan perawatan anthurium relatif lebih mudah dibandingkan tanaman hias lain seperti aglaonema.

"Anthurium lebih kuat terhadap cuaca panas. Penyiraman cukup disesuaikan dengan kondisi media tanam dan suhu, umumnya dua hingga tiga hari sekali. Untuk pemupukan saya lebih banyak menggunakan kompos atau pupuk kandang," ujarnya.

Menurut Abdul, anthurium dijuluki sebagai "raja daun" karena memiliki karakter daun yang tebal, kokoh, serta memiliki nilai estetika tinggi, terutama pada jenis hookeri dan jemani.

Sementara itu, anggota dewan juri perlombaan, Faiz, menjelaskan penilaian tanaman dilakukan berdasarkan tiga aspek utama, yakni performa sebesar 30 persen, kesehatan 30 persen, dan karakter 40 persen.

"Aspek karakter menjadi penilaian terbesar karena setiap jenis anthurium memiliki ciri khas yang harus tetap stabil. Misalnya pada variegata, corak harus konsisten sejak tanaman masih kecil hingga dewasa," jelasnya.

Faiz menilai prospek bisnis anthurium masih sangat menjanjikan karena memiliki komunitas penghobi yang terus berkembang dan mengikuti tren tanaman hias.(uji/van)