Harusnya Diwisuda Hari ini, Mahasiswi Uniska Kediri yang Tewas Kecelakaan Punya IPK Cemerlang

Harusnya Diwisuda Hari ini, Mahasiswi Uniska Kediri yang Tewas Kecelakaan Punya IPK Cemerlang Ibunda Sheika, dr. Wiwin, saat menerima penghargaan dan uang pembinaan dari Rektor Uniska Kediri Prof Bambang Yulianto

Iin juga menceritakan perjuangan Sheika menyelesaikan tugas akhir meski dirinya sedang cuti hamil dan jarang ke kampus.

“Dia rela menunggu dan beberapa kali ke rumah untuk revisi dan tanda tangan. Dia ingin segera tuntas TA-nya, dan teman-temannya jadi ikut termotivasi,” kenangnya. 

Ia menambahkan, Sheika bahkan dilibatkan dalam penelitian hibah dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) karena etos kerjanya yang tinggi. 

“Dulu dia pernah cerita, ingin membanggakan orang tuanya dengan lulus tepat waktu,” ucap Iin lirih.

Dekan Fakultas Teknik, Dr. Riska Nurtantyo Sarbini, ST., MT., juga memberikan kesan mendalam. Menurutnya, Sheika merupakan mahasiswa dengan kemampuan lengkap.

“Mahasiswa yang aktif, dalam perkuliahan aktif semua. Perilakunya santun, skripsinya bagus, jurnalnya bagus. Dia seperti paket lengkap,” ujarnya. Dr. Riska menambahkan bahwa Sheika bercita-cita melanjutkan studi S2 di ITS dan menjadi dosen, mimpi yang ia kejar dengan ketekunan luar biasa.

Kesedihan paling mendalam dirasakan keluarga, terutama sang ibu, dr. Wiwin Sulastri.

Ia mengungkapkan bahwa sejak kecil Sheika dibesarkan sebagai anak yang serba bisa dan memahami tanggung jawab.

“Sheika itu anak yang disiplin. Dia saya didik menjadi perempuan yang serba bisa. Saya didik jadi perempuan yang tidak hanya pintar di luar saja tapi juga di dalam rumah,” ujarnya.

Ia mengingat perhatian Sheika terhadap kondisi orang tua.

“Sheika selalu bilang, ‘Ibu jangan capek-capek. Yang bagian setrika aku aja.’ Masak juga gitu. Kadang dia masakin buat keluarga biar ibu nggak capek. Dia pinter nyuci, nyapu, masak,” tuturnya.

dr. Wiwin juga teringat ucapan Sheika kepada adiknya beberapa waktu sebelum kepergiannya, kalimat yang kini terasa seperti pertanda.

“Kamu harapan satu-satunya Ibuk. Kamu harus belajar lho ya,” pesan Sheika. Sang adik sempat bertanya polos, “Lha Mbak Sheika mau ke mana?” Sebuah percakapan yang kini menyisakan luka bagi keluarga. Sejak kecil, Sheika dididik untuk berpikir holistik, bijak, dan memahami sesuatu secara utuh—dan ia tumbuh menjadi pribadi yang matang serta penuh pertimbangan.

Ayah tirinya, Arijadi Setyanto, AP, turut menyampaikan kenangan pribadi. Baginya, Sheika bukan hanya mahasiswa berprestasi, tetapi juga anak yang santun dan taat.

“Sheika itu anak yang penurut, gigih dalam belajar, dan dalam hal agama juga tekun. Dia sering mengingatkan adik-adiknya untuk ibadah dan belajar,” tuturnya. (uji/van)