KH Fauzi Rouf. Foto: dok. pribadi
GRESIK, BANGSAONLINE.com - Masyarakat Pulau Bawean Kabupaten Gresik Jawa Timur geger. Ini terkait dengan sikap Dewan Kebudayaan Gresik yang mengklaim bahwa tradisi adu sapi - yang dikenal dengan istilah Thok-Thok - dianggap sebagai bagian dari tradisi Bawean.
Padahal menurut para tokoh adat Bawean, Thok-Thok itu bukan tradisi atau budaya warga Bawean.
BACA JUGA:
- BPJS Gresik Dukung Peluncuran Program Prolanis Muda, Sasar Generasi Produktif Cegah Penyakit Kronis
- Polres Gresik Lumpuhkan Residivis Curat di Jombang
- KIPG Genap 40 Tahun, Inovasi Insan Petrokimia Gresik Ciptakan Nilai Rp154 Miliar
- Tinjau Kopdes Merah Putih di Gresik, Tim Kantor Staf Presiden Harap Gerai Segara Terisi
Kini warga Bawean pun bergolak. Bahkan kini banyak spanduk bertebaran di sudut-sudut jalan strategis di Gresik. Diantaranya di dekat Kantor Pemkab Gresik, DPRD Gresik, Bank BNI Gresik.
Spanduk itu dipasang warga Bawean. Isinya menolak Thok-Thok dianggap sebagai bagian dari tradisi atau budaya Bawean.
Mereka bahkan merasa terhina. Di spanduk itu ditulis: Jangan Hina Budaya Etnis Bawean Dengan Kepentingan Politik Sesaat.
Tak tanggung-tanggung. Bukan hanya para tokoh adat Bawean yang tersinggung dan merasa terhina. Para tokoh agama Bawean juga menolak keras. Secara tegas mereka menolak Thok-Thok dianggap sebagai tradisi Bawean.
"Bukan tradisi Bawean," tegas Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bawean KH Fauzi Rauf kepada BANGSAONLINE, Kamis (16/5/2024) siang ini.
"Semua warga Bawean menolak," kata Kiai Fauzi Rauf lagi.
Menurut dia, memang pada tahun 1990-an Thok-Thok itu mulai ada di kampung-kampung. Tapi yang menggelar Thok-Thok bukan warga Bawean. Melainkan warga pendatang, terutama dari kawasan Tapal Kuda.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




