“Seharusnya proyek untuk kepentingan rakyat dibicarakan dulu dengan rakyat, agar memperoleh masukan dan dukungan dari masyarakat luas. Siapapun tidak boleh main paksa kendati untuk kepentingan umum. Ya, sekarang semua sudah jadi bubur, Mat Nur menolak bangunan milik negara itu,“ papar Mastiyana.
Mat Nur, pria yang sehari-harinya hidup dengan mancing ikan di laut untuk nafkah keluarganya ketika ditemui mengakui bahwa dirinya sejak awal diintimidasi untuk menghibahkan tanahnya ke Hipam Talango.
“H. Haris memang memaksa sejak awal akan membangun tandon air di tanah milik saya dan saya menolak. Sebab, saya orang miskin dan tanah itu harta satu satunya yang akan diwariskan kepada ketiga anak saya,“ ujar Mat Nur.
Pada saat dimulainya pembangunan tandon di lahan milik Mat Nur, pihaknya juga protes kepada para tukang yang mengerjakan proyek tandon itu. Namun, para tukang hanya menjawab pendek bahwa dirinya hanya disuruh.










