Peringatan Isro Mikraj Nabi Muhammad SAW di Pendapa Pemkab Pacitan.
PACITAN, BANGSAONLINE.com - Memahami peristiwa religius Isro Mikraj sebagaimana yang pernah dialami Nabi Muhammad harus diawali dari pribadi masing-masing umat Islam. Di antaranya insting yang bisa mengimbangi hawa nafsu atau sebagai sarana mengendalikan diri.
Hal ini disampaikan KH Rahmatullah dari Ponpes Gontor Ponorogo saat memberikan tausiyah dalam rangka memperingati Isro Mikraj Nabi Muhammad, SAW di Pendapa Pemkab Pacitan, Rabu (18/4) malam kemarin.
BACA JUGA:
- BPBD Pacitan Imbau Warga Waspada Gempa dan Potensi Tsunami
- Pacitan Berpotensi Gempa Megathrust, ini Penjelasan BMKG
- Tinjau Hasil Rekonstruksi Talud di Pacitan, Gubernur Jatim Disambut Ucapan Terima Kasih dari Warga
- Oknum Anggota Polres Pacitan Diduga Perkosa Tahanan Wanita, Kabid Humas Polda: Sudah Ditahan
"Kemudian hidayah. Artinya dengan akal, manusia akan bisa membedakan antara perilaku baik dengan perilaku setan. Selain itu iman, yang diciptakan Allah pada diri manusia agar mereka punya keyakinan, yakin akan adanya Allah yang telah menciptakan bumi beserta isinya," kata KH Rahmatullah.
Menurutnya, hikmah peristiwa Isro dan Mikraj untuk menguji manusia agar bisa memahami sebuah peristiwa sakral di luar kemampuan akal pikiran dan naluri manusia. "Peristiwa Isro dan Mikraj adalah kehendak Allah SWT dan untuk hidayah yang kedua adalah perintah salat lima waktu," jelasnya. (yun/rd)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




