?
Keindahan Masjid Jamik Keraton Sumenep yang dibangun dengan perpaduan tiga seni arsitektur. foto lukman/BANGSAONLINE
Sebuah masjid ternyata tidak semata berfungsi untuk tempat ibadah umat Islam. Masjid juga dipenuhi makna filosofis yang mengatur tingkah laku manusia, khususnya selama berada di masjid itu. Masjid yang dipenuhi makna filosofis di setiap detail bangunannya ini misalnya Masjid Jamik Keraton Sumenep.
Masjid Jamik Keraton Sumenep terletak di pusat kota Sumenep, kabupaten paling timur di pulau Madura. Masjid ini merupakan masjid bersejarah yang merupakan peninggalan kerajaan Sumenep yang masih terjaga keasliannya hingga saat ini.
Masjid ini merupakan salah satu dari 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas, perpaduan seni arsitekCina, dan Jawa dan Madura. Harian BANGSA berkesempatan mengunjungi masjid ini, Selasa (15/7) kemarin.
Masjid ini, dibangun pada pemerintahan Panembahan Somala Penguasa Sumenep XXXI, oleharsitektur asal Tionghua yang bernamaLauw Phia Ngo. Menurut catatan sejarah Sumenep, pembangunan Masjid Jamik Sumenep dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai 1787 Masehi.
Lauw Phia Ngo, merupakan salah seorang tukang keturunan bangsa Cina, yang terdampar di pesisir Desa Pasongsongan. Keberadaan Lauw ini ditemukan oleh Panembahan Somala setelah melakukan salat istikarah. Lauw merupakan, cucu Lauw Khun Thing, satu dari enam pemuda asal Cina yang terdampar di Pasongsongan setelah melarikan diri dari daratan Cina akibat perang besar.
Tempat ibadah ini merupakan salah satu bangunan pendukung Karaton, yakni sebagai tempat ibadah bagi keluarga Karaton dan Masyarakat.
Ada sejumlah keunikan yang terpampang dari bangunan Masjid Jamik Keraton Sumenep, misalnya sekeliling masjid yang memakai pagar tembok dengan pintu gerbang berbentuk gapura. Bangunan ini dinamakan gapura, asal kata dari bahasa Arab, ‘Ghafura’, yang artinya pengampunan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




