PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Anggota DPRD Pamekasan Hosnan Ahmadi menilai bila hanya produk batik yang baru bisa diandalkan sebagai usaha kecil menengah dan mampu bersaing pada momentum masyarakat ekonomi Asean (MEA).
"Di sektor lokal kita hanya mampu bersaing dari usaha batik, karena tingkat pertumbuhan dan perkembangannya menanjak. Selain itu, batik juga sebagai usaha UMKM," kata Hosnan Achmadi, Kamis (21/1).
BACA JUGA:
- Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila, Bupati Pamekasan Tegaskan Peran Indonesia Jaga Perdamaian Dunia
- YBM PLN Madura Tebar 230 Paket Daging Kurban untuk Warga Dhuafa Pamekasan
- Dihadiri Mendikdasmen, Puluhan Siswa Pingsan Saat Senam Anak Indonesia Sehat di Pamekasan
- Dugaan Penipuan Umrah di Pamekasan Memanas, Korban Kini Digugat Balik Agensi
Usaha batik memang terbilang menjanjikan daripada usaha lainnya, apalagi daerah yang identik dengan slogan Bumi Gerbang Salam, juga sudah disematkan sebagai Kota Batik. "Jenis usaha yang bisa dipertaruhkan dalam MEA ini, khusus Pamekasan, hanya batik. Sementara yang lain belum bisa," ungkapnya.
"Soalnya, kalau berbicara tentang batik Madura. Tentu batik Pamekasan yang akan menjadi prioritas," tegas politisi Partai Amanat Nasional (PAN), yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi II DPRD Pamekasan itu.
Hanya saja pihaknya minimnya jiwa kewirausahaan dan kemampuan ekonomi di instansi terkait, mengakibatkan produk batik batik cenderung stagnan. "Birokrasi tidak memiliki jiwa interprener, dan kemampuan ekonomi kita tidak terbuka. Bahkan cenderung stagnan dengan produk lama," jelas Hosnan.
"Dibutuhkan inisiatif dan motivasi langsung dari sektor UMKM untuk mendorong para pengusaha, misalnya akses pemodalan, pemasaran, pelatihan dan lain sebagainya," pungkasnya. (ber/ros)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




