Sabtu, 19 Juni 2021 19:47

Testimoni Prof Siti Fadilah, Sudi Silalahi dan Abu Rizal Bakrie Pasca Disuntik Vaksin Nusantara

Minggu, 25 April 2021 06:49 WIB
Editor: mma
Testimoni Prof Siti Fadilah, Sudi Silalahi dan Abu Rizal Bakrie Pasca Disuntik Vaksin Nusantara
Dahlan Iskan. foto: ist

SURABAYA, BANGSAONLINEcom - Ternyata tak mudah melahirkan vaksin mandiri. Atau vaksin produk dalam negeri.

Tapi lumayan lega setelah ada jalan tengah untuk Vaksin Nusantara (VakNus). TNI-AD, BPOM, dan Kemenkes akhirnya MOU untuk kelanjutan penelitian Vaksin Nusantara (VakNus). Tapi bagaimana efek pasca disuntik VakNus? Bagaimana juga kelanjutan vaksin produk anak bangsa yang lain?

Nah, silakan simak tulisan Dahlan Iskan, wartawan handal itu, di Disway dan HARIAN BANGSA. Di bawah ini BANGSAONLINE.COM menurunkan tulisan manarik itu secara langkap. Selamat menikmati:

INI hanya testimoni. Yang dalam hierarki penelitian derajatnya paling rendah. Dan wartawan terlalu banyak menulis berbasis testimoni. Pun seperti yang saya tulis hari ini.

BACA JUGA : 

Bukan Obat, Bukan Vaksin, Tak Diakui, Tapi Timbulkan Antibodi-Protektif pada Covid-19, Apa Itu?

Virus ​Tak Bisa Bohong, Ini Beda Peneliti Virus dan Peneliti tentang Politisi

VakNus, Kita Kecolongan Satu Langkah, Akibat Terlalu Lama Usreg

Vaksin Nusantara, BPOM Fokus Dulu Pada: Apa Aman dan Efektif

"Alhamdulillah, tidak ada keluhan apa pun," ujar Siti Fadilah Supari, mantan menteri kesehatan yang gelar akademisnyi profesor doktor.

Fadilah menjalani "vaksinasi nusantara" Jumat pagi lalu. Kesaksian ini diucapkan Sabtu petang kemarin.

"Apakah tidak meriang?"

"Tidak," jawabnyi.

"Tidak mengantuk?"

"Tadi malam mengantuk sekali. Tidur nyenyak. Senang sekali bisa tidur nyenyak," katanyi.

Saya juga mendapat WA testimoni sukarela dari Sudi Silalahi. Ia mantan sekretaris kabinet. Letnan Jenderal purnawirawan.

"Mas DI, Alhamdulillah, sejak ambil darah sample, sampai dengan pasca suntik Vaknus tidak ada keluhan apa-apa," tulisnya. Jam 17.00 kemarin saya menelepon Pak Sudi. Dengan ragu. Saya ingin testimoni lebih banyak. Tapi saya tahu, di bulan puasa seperti ini, pada jam seperti itu Pak Sudi pasti sudah di masjid.

Testimoni lainnya dari pionir VakNus: Aburizal Bakrie. Ia konglomerat yang pernah kesasar ke politik.

Kemarin adalah hari ke-6 setelah disuntik VakNus. "Tidak ada keluhan apa-apa," katanya.

Tiga tokoh itu sudah tua semua. Punya penyakit-penyakit ikutan semua.

Pak Ical –nama panggilan Aburizal Bakrie– hari itu disuntik bersama istri, anak, dan sekretaris. Anaknya yang perempuan, Anindhita Anestya Bakrie. Empat-empatnya, kata beliau, tidak punya keluhan.

Dengan demikian tidak perlu menulis apa pun di formulir keluhan. Semua relawan VakNus memang diberi segepok dokumen. Ada penjelasan teknis. Ada hak dan kewajiban relawan. Ada formulir kesediaan secara sukarela. Ada pula lembaran untuk pelaporan keluhan.

Relawan harus menulis apa pun keluhan yang dirasakan. Termasuk yang paling ringan sekali pun. Bahkan pun yang tidak ada hubungannya dengan VakNus. Misalnya: diserempet sepeda motor.

Di samping menulis keluhan mereka juga harus menulis telah melakukan tindakan apa. Misalnya untuk yang pusing, minum obat apa. Semua harus ditulis dalam laporan sebagai persyaratan jadi objek penelitian.

Lalu mereka memperoleh daftar nomor telepon yang harus dihubungi kalau ada perkembangan yang dianggap penting atau darurat.

"Saya tidak menulis apa-apa. Demikian juga istri, anak saya, dan sekretaris saya," kata Pak Ical.

"Saya juga tidak menulis apa-apa. Benar-benar tidak ada keluhan," ujar Siti Fadilah.

Tapi mereka itu mungkin seperti saya: relawan yang tidak masuk daftar objek penelitian. Saya ternyata tidak memenuhi syarat jadi objek penelitian. Itu karena saya harus minum obat penurun imunitas. Setiap hari. Sejak transplant hati 15 tahun lalu. Untuk seumur hidup saya.

"Kalau saya ini tidak tahu masuk objek penelitian atau tidak," ujar Pak Ical. "Terserah tim peneliti. Kalau memenuhi syarat silakan masukkan. Kalau tidak jangan dimasukkan," tambahnya.

Saya sendiri sebenarnya berharap dokter Terawan mengalah. Lakukanlah tahap penelitian sejak dari binatang lagi. Memang rugi waktu. Memang tidak cocok dengan prinsip kedaruratan. Memang bisa bilang ''untuk apa lagi?" Atau: bukankah penelitian lewat binatang itu sudah dilakukan di Amerika?

Tapi para pengkritik Anda sekarang ini mempersoalkan itu: atas nama doktrin penelitian normal. Para pengritik Anda tidak mengakui adanya kedaruratan. Mereka bilang: penelitian lewat binatang di Amerika itu kan untuk kanker.

Sejak awal saya juga setuju jalan tengah: kalau begitu janganlah VakNus ini disebut vaksin. Ide I-Nu dari dr Tifa itu juga sangat seksi.

Pikiran seperti itu muncul karena saya sangat takut ide mengembangkan VakNus ini macet di tengah jalan. Saya membayangkan kalau VakNus ini berhasil, inilah saatnya Indonesia tampil di peta bumi secara global.

Apalagi saya memang orang yang suka mengalah - -sesekali. Jadi saran untuk mengalah tadi lebih mencerminkan sikap pribadi saya.

Mumpung sudah terbukti: di masa darurat ini anak bangsa mampu melahirkan ventilator (ITB) dan deteksi Covid Ge-Nose (UGM).

Tapi syukurlah ide pengembangan VakNus ini tidak sampai macet. MoU tiga instansi telah menemukan jalan tengah itu: TNI-AD, BPOM, dan Kemenkes.

Dengan MoU itu penelitian VakNus –atau apa pun namanya– tetap bisa dilakukan. Yakni di RSPAD. Bahkan proses pengambilan darah objek penelitian sudah selesai. Sudah mencapai jumlah yang dipersyaratkan dalam penelitian fase 2. Sebagian, bahkan, sudah disuntikkan. Sebagian lagi, seperti rombongan saya, mendapat giliran Selasa depan.

Saya harus minta maaf kepada calon relawan yang ingin jadi objek penelitian yang mendaftar lewat saya. Tidak bisa lagi. Jumlahnya sudah mencukupi. Saya anjurkan untuk ikut vaksinasi lain yang digalakkan sekarang. Atau ikut jadi relawan fase 3 kelak.

Atau ikut ramai-ramai jadi relawan salah satu Vaksin Merah Putih. Unair, UI, UGM, LIPI, Eijkman lagi mengembangkan itu. Dengan cara mereka sendiri-sendiri. Tinggal kita tunggu kapan salah satu dari lima Vaksin Merah Putih itu memasuki uji coba fase 1. Saya juga berharap dengan sebar siapa yang duluan memasuki fase 1 itu.

Merah Putih adalah Nusantara. Nusantara adalah Merah Putih. (*)

Gelar Pertemuan, Anggota Poktan Sumber Rejeki Lengserkan Sumadi dari Jabatan Ketua
Sabtu, 19 Juni 2021 00:20 WIB
NGANJUK, BANGSAONLINE.com - Ketua Gapoktan Sumber Rejeki, Sumadi, dilengserkan dari jabatannya oleh puluhan anggota, Kamis kemarin. Ini setelah puluhan anggota Gapoktan Sumber Rejeki mendatangi rumah Sumadi, yang juga menjabat kepala Dusun, untu...
Sabtu, 19 Juni 2021 18:17 WIB
JEMBER, BANGSAONLINE.com - Dalam kondisi pandemi, Pemerintah Kabupaten Jember tetap berupaya menggeliatkan sektor pariwisata meski dengan menerapkan prosedur pencegahan Covid-19 yang ketat.Salah satunya, dengan menggelar Jelajah Wisata and Funcamp 20...
Sabtu, 19 Juni 2021 07:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Presiden Abraham Lincoln menjadi tonggak sejarah bagi penghapusan perbudakan di Amerika Serikat (AS). Salah satu legacy Lincoln adalah UU anti diskriminasi.Kini terhapusnya perbudakan itu dijadikan hari kemerdekaan. Terut...
Minggu, 16 Mei 2021 06:58 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*65. fawajadaa ‘abdan min ‘ibaadinaa aataynaahu rahmatan min ‘indinaa wa’allamnaahu min ladunnaa ‘ilmaanLalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berika...
Sabtu, 19 Juni 2021 15:30 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke [email protected] Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&l...