Ilustrasi. (iStock)
"Saya positif pada awal Agustus lalu, saat itu juga pas ada revisi baru dari Permenkes. Swab negatif langsung disuruh pulang dan swab positif langsung masuk. Saya menjalani seminggu di RSHU, meski hari kedua sempat sesak napas dan mau pingsan, tapi keadaan segera membaik," ungkapnya.
Setelah seminggu di RSHU, Tito melakukan swab lagi dan hasilnya negatif. Akhirnya ia melakukan isolasi mandiri selama dua minggu di rumah orang tuanya. Karena rumah kosong dan ternyata ibunya juga positif Covid-19, namun beda penularan.
Ditanya terkait motivasinya untuk sembuh, ternyata karena anaknya. Bersyukur anaknya negatif. Tito membayangkan jika anaknya juga positif, dia tak tahu bagaimana nasib anaknya tersebut. Dari situlah semangatnya untuk sembuh makin besar.
Dan akhirnya sampai sekarang sudah sembuh. Dari kejadian tersebut, ia mengambil kesimpulan jika protokol kesehatan tidak hanya dilakukan di luar rumah, tetapi di dalam rumah pun harus dilakukan. Sekarang seluruh keluarganya sudah sembuh dan swab terakhir negatif. Meski ibunya sempat dirawat sebulan di RS Unair.
Sejak musibah tersebut, kini di rumah pun ia memakai masker.
"Bahkan, saat tidur juga memakai masker. Kalau di rumah sama keluarga juga tetap jaga jarak. Jadi kita di rumah juga tetap melakukan protokol kesehatan. Juga saat bepergian ke mall atau ke mana gitu, hanya mencari yang dibutuhkan. Kalau sudah, ya segera pulang supaya jauh dari kerumunan," kata alumni AWS tersebut.
Ia juga berbagi tips. Menurutnya, masker itu penting. "Jadi, ngapain aja pakai masker, kecuali makan dan minum. Dari penggunaan masker bisa mencegak kita tertular atau menularkan. Sedia hand sanitizer di tas dan kacamata pelindung. Nanti kalau sudah ketemu tempat cuci tangan, segera mencuci. Kalau di tempat luar, kerumunan, pegang sesuatu bukan barang kita, harus cuci tangan," pungkasnya. (diy/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




