MOJOKERTO (BangsaOnline) - Masyarakat ternyata menginginkan agar nama Jalan Mustofa Kamal Pasa yang merupakan akses ke wanawisata dan air panas Padusan Pacet diganti. Satriyo Wiweko dari LSM Sahabat lingkungan mengatakan, kalau ingin dikenang oleh masyarakat, tidak harus menjadi nama jalan, tapi cukup dengan prasasti yang ditandatangi.
Ia juga menilai masih banyak PR pembangunan yang belum terealisasi oleh Bupati Mustofa Kamal Pasa.
”Kalau ingin dikenang, ya bikin proyek-proyek dan kegiatan yang baik. Misalnya kawasan hutan yang gundul dihijaukan, daerah galian C yang rusak direhabilitasi atau dengan membangun masjid, jadi masyarakat akan mengenang bukan atas namanya, tapi dari karyanya. Kalau karyanya baik, otomatis masyarakat akan mengenang,” cetus Koko, panggilan akrab Satriyo Wiweko.
Sementara Sony Basuki yang juga anggota DPRD Kota Mojokerto menilai, nama jalan Mustofa Kamal Pasa harus diralat. Apalagi posisinya yang belum diresmikan.
”Pak Mustofa belum saatnya untuk dikenang. Sebaiknya ciptakan hal-hal yang terbaik dulu. Meskipun sekarang sudah punya nilai plus, seperti pembangunan jalan-jalan desa di kabupaten Mojokerto. Tapi untuk dicantumkan namanya sebagai nama jalan, itu masih terlalu dini,” tekan Sony.
Seperti diketahui, Pemkab Mojokerto membangun jalur alternatif yang menghubungkan wisata pemandian air panas Padusan dengan Desa Claket, Kecamatan Pacet. Ruas jalan berkonstruksi beton sepanjang 4,6 km ini menjadi sebagai solusi untuk mengurai kemacetan di pintu masuk pemandian air panas Padusan.
Untuk membangun ruas Jalan Mustofa Kamal Pasa (MKP) ini, Pemkab Mojokerto mengucurkan dana dari APBD 2014 sebesar Rp 14,134 miliar. Sayangnya, pemberian nama Mustofa Kamal Pasa, justru menuai cibiran dari masyarakat. Padahal, rencananya akan ada tiga jalan lagi yang dinamakan Jalan Mustofa Kamal Pasa, yakni di Desa Kunjorowesi dan Manduro Manggunggajah Kecamatan Ngoro serta jalan di lereng Gunung Penanggungan Trawas.




