Minggu, 05 Juli 2020 11:30

​Rozi, Melukis Hadratussyaikh, Syaikh Nazim Haqqani & Hisyam Kabbani Tak Batal Wudlu

Rabu, 01 April 2020 20:57 WIB
Editor: MA
​Rozi, Melukis Hadratussyaikh, Syaikh Nazim Haqqani & Hisyam Kabbani Tak Batal Wudlu
A Fahhur Rozi, pelukis muda, alumnus Pesantren Tebuireng saat di kantor HARIAN BANGSA Jalan Gayungsari Surabaya, Rabu (1/4/2020). foto: MA/ bangsaonline.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Nama lengkapnya A Fahrur Rozi. Akrab dipaggil Rozi. Pelukis muda asal Gresik Jawa Timur ini sangat berbeda dengan pelukis pada umumnya. Ia sangat hati-hati dalam melahirkan karya. Bahkan ia mengaku tak pernah batal wudlu alias selalu suci dari hadats saat menuangkan kreativitas di atas kanvas.

(Lukisan Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy'ari karya Rozi yang diantar ke kantor HARIAN BANGSA, Rabu (1/4/2020). foto: MA/bangsaonline.com)

“Kalau batal saya wudlu lagi,” kata Rozi kepada BANGSAONLINE.com ketika mengantar lukisan di kantor HARIAN BANGSA Jalan Gayungsari Surabaya, Rabu (1/4/2020). Ia mengantar hasil karyanya, lukisan Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebuireng Jombang. Lukisan Hadratussyaikh itu memang pesanan M Mas'ud Adnan, Komisaris Utama HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com serta HB.Net. Kini lukisan Hadratussyaikh yang dikenal sebagai peletak dasar kemerdekaan RI itu dipajang di ruang kerja M Mas'ud Adnan di kantor HARIAN BANGSA Surabaya.

(Syaikh Hisyam Kabbani dan Gus Dur. foto: istimewa)

Alumnus Pesantren Tebuireng ini bahkan tidak hanya suci dari hadats. Ia mau melukis jika seizin keluarga tokoh yang ia lukis. Karena itu, ketika mau melukis Hadratussyaikh ia mohon izin dulu ke para dzuriyah.

“Ketika saya mau melukis Mbah Hasyim, saya minta izin Gus Sholah. Saya matur, saya mau melukis Mbah Hasyim dan semua dzuriah Tebuireng, seperti Kiai Wahid Hasyim, Gus Dur, Kiai Yusuf Hasyim, dan yang lain,” kata pelukis yang kini tinggal di Perumahan Pondok Jati, Taman, Sidoarjo. Mbah Hasyim adalah panggilan akrab Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari.

Bagaimana respons Gus Sholah? “Gus Sholah menjawab, O, monggo. Terima kasih,” tutur Rozi menirukan respon Gus Sholah. Sejak itu, ia banyak melukis Hadratussyaikh dan para dzuriyah (keturunan Hadratussyaikh). “Saya melukis Mbah Hasyim sejak enam tahun lalu, sejak Gus Dur wafat,” kata Rozi yang lahir pada 28 November 1971.

(Lukisan Syaikh Nazim Haqqani dan Syaikh Hisyam Kabbani karya Rozi saat dilelang di Jakarta pada tahun 2012. foto: istimewa/ bangsaonline.com)

Rozi mengaku punya pengalaman unik. Suatu ketika ia diminta membuat silsilah Tarikat Naqsyabandiyah. Karya Rozi tampaknya sesuai dengan keinginan mereka. Maka begitu selesai, ia didatangi murid Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani, tokoh sufi Naqsabandiyah yang tinggal di Cyprus itu. Ia diminta melukis Syaikh Nazim Haqqani.

Syaikh Nazim Haqqani adalah keturunan Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. Sedang dari jalur ibu ia keturunan Maulana Jalaluddin ar-Ruumi. Ia tinggal di Cyprus.

Rozi juga diminta melukis Syaikh Hisyam Kabbani, tokoh sufi asal Lebanon yang tinggal di Amerika Serikat (AS). Syaikh Hisyam Kabbani lulusan American University di Beirut dalam bidang kimia dan Kedokteran University of Louvain, Belgia. Ia juga meraih gelar di bidang Hukum Islam dari Universitas al-Azhar, Damaskus.

Sejak usia 15 tahun, ia menemani Syekh `Abdullah ad-Daghestani q.s. dan Syekh Nazim al-Haqqani q.s.

Kini ia berdakwah menyebarkan sufisme di AS. Ia telah membuka 13 pusat sufi di Kanada dan Amerika Serikat.

Ia juga banyak mendirikan pusat suluk atau zawiyyah (retreat centers) di AS, seperti di California (L.A, San Fransisco, San Jose, Hollywood, Beverly Hills, Los Altos, Oakland), Toronto, New York, Michigan dan Washington D.C. Ia juga banyak mengislamkan para tokoh non muslim seperti pendeta dan pastur. Kini lebih dari 100.000 non muslim di AS dan sekitarnya telah disyahadatkan oleh Syaikh Hisyam Kabbani.

Tapi kenapa para murid ulama besar tingkat dunia itu memilih Rozi untuk melukis para masyayikh? “Alasannya sangat sederhana. Karena saya alumni Tebuireng. Menurut mereka, sanad keilmuan saya jelas. Yaitu ke Mbah Hasyim. Dan Mbah Hasyim pendiri NU. Karena itu, kata mereka, saya tak diragukan lagi,” kata Rozi. Saking sregnya kepada Rozi, pesanan lukisan kepada pelukis lain dibatalkan.

Rozi sendiri mengaku tak habis pikir. “Padahal saya gak pernah berpikir kesana,” kata alumnus Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Tebuireng ini. Ia akhirnya mengakui bahwa ini adalah barakah Hadratussyaikh dan Pesantren Tebuireng.

Paham keagamaan Syaikh Hisyam Kabbani dan Syaikh Nizam Haqqani memang sejalan dengan NU. Bahkan ketika Syaikh Hisyam Kabbani mengikuti The International Conference of Islamic Scholar (ICIS) yang diprakarsasi Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi pada 2004 ia langsung tertarik NU. Ia kemudian masuk NU dan diangkat sebagai anggota kehormatan NU di AS.

Karena itu wajar jika mereka sangat sreg dengan Rozi. Meski demikian Rozi tak langsung mengiyakan. “Saya minta syarat. Saya harus dimintakan ijin dulu kepada Syaikh Nazim Haqqani dan Syaikh Hisyam Kabbani,” kata Rozi.

Seketika itu juga, tutur Rozi, mereka langsung kontak Syaikh Nazim Haqqani di Cyprus dan Syaikh Hisyam Kabbani di AS. Saat itu tahun 2012, sebelum Syaikh Nazim Haqqani wafat. Syaikh Nazim Haqqani wafat pada 2014.

Menurut Rozi, sebelum melukis mereka juga minta syarat. Apa syaratnya? “Saat melukis syaikh, kata mereka, saya harus punya wudlu dan baca salawat,” kata Rozi. “Kalau itu kan sudah biasa bagi saya. Setiap saya melukis saya selalu punya wudlu’,” tambah Rozi yang sering memberikan pengajian kitab kuning di masjid perumahan  tempat ia tinggal.

Lukisan dua tokoh sufi besar karya Rozi itu kemudian dilelang di Jakarta. Penawar dan pembelinya tentu saja para anggota atau pegiat Tarikat Naqsabandiyah dari berbagai daerah yang rata-rata fanatik. Tapi Rozi tak mau tahu laku berapa. Sebab lelang itu untuk kepentingan amal pembangunan pondok pesantren. “Saat itu saya hanya minta Rp 1 juta untuk pengganti bahan-bahan lukisan,” katanya sembari menegaskan bahwa lelang lukisan itu tahun 2012. Delapan tahun lalu.

Namun, kata Rozi, lukisan paling banyak dipesan masyarakat adalah lukisan Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy'ari. Ini mudah dimaklumi, Hadratussyaikh, selain populer sebagai ulama alim allamah yang reputasi keilmuannya diakui secara internasional, juga telah banyak melahirkan ulama besar yang menjadi pendiri pondok pesantren di berbagai sudut nusantara. Hadratussyaikh juga pendiri NU dan pahlawan nasional yang disebut sebagai peletak dasar kemerdekaan RI. Pengaruh besar Hadratussyaikh inilah yang membuat para ulama bersatu untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara. Selain itu Hadratussyaikh juga pendiri Pesantren Tebuireng yang kini terus berkembang pesat. Bahkan Pesantren Tebuireng kini telah membuka 14 cabang di berbagai daerah, termasuk di luar Jawa. 

Menurut Rozi, lukisan Hadratusyaikh hasil karyanya juga pernah dilelang saat pertemuan alumni Pesantren Tebuireng pada 2019. "Saat itu laku Rp 60 juta, dibeli Haji Sobri, alumni Tebuireng  dari Jawa Barat. Uang hasil lelang disumbangkan ke Tebuireng," tutur Rozi sembari mengatakan bahwa ia hanya ambil Rp 3 juta. (MA)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Rabu, 01 Juli 2020 18:44 WIB
Oleh Fandi Akhmad Yani (Gus Yani)*Kring... Kring.. Kring.. "Hallo Pak Ketua". Terdengar suara lirih dari depan kantor DPRD Gresik saat saya keluar dari kantor. Adalah Mbah Amang Genggong. Sudah menjadi kebiasaannya setiap kali melintas di depan ged...
Rabu, 24 Juni 2020 23:47 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Jumat, 03 Juli 2020 22:23 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat...