Strategi Surabaya Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Isu Lingkungan

Bahkan, kata Ikhsan, pengunjung atau pelajar yang datang, juga bisa mengembangkan inovasi-inovasi yang ditampilkan itu di masing-masing sekolah. Melalui stan-stan yang ditampilkan, mereka bisa saling sharing dan belajar untuk mengembangkan inovasi dan kreatifitas itu. "Sehingga diharapkan satu tahun ke depan akan lebih banyak lagi inovasi-inovasi kreativitas yang dilakukan anak-anak dan para guru," tuturnya.

Produk atau kreativitas yang ditampilkan tersebut, salah satunya adalah batik. Pengunjung pun juga bisa belajar langsung dan mempraktikkan proses pembuatan batik yang memiliki beragam jenis itu. “Kita lihat batiknya mereka banyak jenisnya, sehingga banyak kemudian dari pelajar dan para guru yang belajar,” katanya.

Tak hanya belajar membatik, Dispendik Surabaya juga menyiapkan berbagai pelatihan lain dalam kegiatan itu. Di antaranya, make up artis, fotografi, vlog, dan sebagainya. Tak ayal, tiap hari, pengunjung pun terus berdatangan, baik dari kalangan pelajar maupun masyarakat umum. “Mereka antusias sekali, mengikuti beragam pelatihan,” kata dia.

Di samping menyiapkan beragam pelatihan dalam strategi menyiapkan SDM menjawab tantangan industri 4.0, beberapa stan pameran juga menampilkan inovasi-inovasi produk daur ulang. Ikhsan menyebut, tantangan dalam konteks lingkungan, menjadi alasan program eco school terus digalakkan di sekolah-sekolah.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: