Sabtu, 26 September 2020 12:06

Tanya-Jawab Islam: Hukum Beli Tanah Lewat Makelar

Sabtu, 19 Mei 2018 11:02 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: -
Tanya-Jawab Islam: Hukum Beli Tanah Lewat Makelar
Dr. KH. Imam Ghazali Said.

>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<<

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb. Saya ingin menanyakan prihal jual beli tanah. Ada tetangga yang menawarkan tanah 400 meter kepada kami dengan harga 50 ribu/meter. Nah karena kami belum punya uangnya jadi kami meminta bantuan kakaknya ayah untuk memberikan modalnya. Ia berpesan untuk kejujuran kami. Di satu sisi tetangga yang menawarkan tanah tersebut ternyata makelar, kami diajak ke penjual tanah tersebut dan tawar menawar menjadi 42 ribu/meter. Ternyata tetangga yang menawarkan itu menagih kami tetap 50 ribu/meter. Katanya sisa dari penawaran tersebut adalah miliknya. Bagaimana ini ustadz, kami bingung. Terimakasih. (Nurul, Cianjur)

Jawaban:

Makelar memang boleh tapi cara yang dilakukan seperti di atas itu menjadi bermasalah. Pada dasarnya apa yang Ibu alami itu mirip dengan perantara/calo/makelar/kuasa/wakil atau dalam bahasa Arabnya disebut Simsaar. Dan bahkan makelar ini sudah ada dan legal dikenal sejak zaman Rasulullah saw. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis laporan Qois bin Abi Gorzah yang menceritakan:

قَالَكُنَّافِىعَهْدِرَسُولِاللَّهِ -صلىاللهعليهوسلم- نُسَمَّىالسَّمَاسِرَةَفَمَرَّبِنَارَسُولُاللَّهِ -صلىاللهعليهوسلم- فَسَمَّانَابِاسْمٍهُوَأَحْسَنُمِنْهُفَقَالَ « يَامَعْشَرَالتُّجَّارِإِنَّالْبَيْعَيَحْضُرُهُاللَّغْوُوَالْحَلِفُفَشُوبُوهُبِالصَّدَقَةِ ».

“Dulu, kami pada masa Rasulullah SAW menamakan diri sebagai samasirah (calo/makelar). Suatu ketika Rasulullah datang menghampiri kami dan menyebut kami dengan nama yang lebih baik dari calo, beliau bersabda: “Wahai para pedagang, sesungguhnya jual beli ini terkadang diselingi dengan kata-kata tidak manfaat dan sumpah, maka perbaikilah dengan bersedekah”. (Hr. Abu Dawud:3328)

Kemudian landasan akad (transaksi) dalam hukum fiqih bagi simsar (calo) ini minimal ada tiga akad; Pertama, akad wakalah (mewakili dan mewakilkan). Dalam hal ini penjual memberikan kuasa kepada makelar untuk mewakili dirinya dalam menjualkan tanah miliknya kepada pembeli, atau sebaliknya si makelar mewakili dari pihak pembeli. Maka makelar harus menyampaikan informasi sekecil apapun kepada pihak yang memberikan kuasa dari hasil transaksi ini dan tidak boleh menyembunyikannya apalagi mengambil keuntungan, misalkan menaikkan harga barang atau menurunkannya. Ia murni wakil dari pihak pembeli atau penjual.

Kedua, akad ijar (transaksi jasa). Dalam hal ini pihak penjual menggunakan jasa makelar untuk menjualkan barangnya kepada pihak pembeli yang sudah ditentukan upah atau ongkosnya terlebih dahulu atau juga pihak pembeli menggunakan jasa makelar untuk membelikan barang dari penjual. Maka, makelar tugasnya hanya memberikan jasanya untuk menjual atau membeli tidak mengambil keuntungan dari transaksi tersebut.

Ketiga, akad ju’alah (transaksi sayembara). Dalam hal ini pihak penjual tidak bertransaksi kepada pihak makelar tertentu tapi kepada seluruh makelar, dengan akad barang siapa yang dapat menjualkan barangnya maka ia berhak mendapatkan sekian persen dari hasil penjualan. Maka si makelar juga tidak bermain harga penjualan, ia hanya menjualkan barang yang harga dan barangnya dari pihak penjual.

Nah, melihat peristiwa yang Ibu alami di atas, makelar itu tidak melakukan satu pun di antara hukum fiqih yang membolehkan itu, ia (makelar) terkesan sejak awal hanya akan membantu saja, atau nanti kalau memang deal (terjadi jual beli) maka akan memberikan komisi saja secukupnya.

Maka cara makelar yang tidak menjelaskan di awal itu salah, tidak dibenarkan dalam Islam. Oleh sebab itu seharusnya Ibu juga ikut andil dalam memperjelas di awal apakah makelar ini hanya sekedar membantu dan diberi komisi sepantasnya atau ada hitungan persennya, maka ini juga harus jelas.

Namun, kalau makelar itu menawarkan jual-beli ibu, secara hukum Islam harga 42 ribu per meter itu harga milik Ibu bukan milik makelar. Sebab yang melakukan jual beli adalah Ibu, bukan makelar. Andaikan makelar mengatakan sudah membelinya, itu tetap tidak boleh tetap haram, sebab ia menjual barang yang belum dimilikinya. Saran saya Ibu langsung datang saja ke notaris, agar masalahnya bisa segera diselesaikan. Pihak makelar berikan saja komisi secukupnya, dan proses selanjutnya agar diurus oleh notaris tersebut. 

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Minggu, 20 September 2020 21:35 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Banyuwangi banyak memiliki pantai cantik yang mempesona dengan keindahannya. Pantai yang bisa memikat para traveler datang di bumi sunrise of java ini.Tetapi bukan hanya pantai cantik saja yang menarik wisatawan mancan...
Kamis, 17 September 2020 20:43 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan---Sebuah video mencuat di media sosial. Viral. Isinya seorang perempuan desa. Madura. Menyanyikan lagu dangdut. Ciptaan Rhoma Irama.Penampilan perempuan itu sangat udik. Norak. Tanpa rias wajah. Bahkan video itu direkam d...
Selasa, 15 September 2020 13:32 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*30. inna alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati innaa laa nudhii’u ajra man ahsana ‘amalaanSungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala or...
Jumat, 11 September 2020 09:50 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&l...