Selasa, 23 Juli 2019 15:54

​Jaga Netralitas Anggota TNI di Pilkada Serentak

Selasa, 17 April 2018 14:36 WIB
Editor: Rizki Daniarto
Wartawan: -
​Jaga Netralitas Anggota TNI di Pilkada Serentak
Kepala Staf Koarmatim (Kasarmatim) Laksamana Pertama TNI I N.G. Sudihartawan memimpin upacara bendera 17-an. foto: Dispen Armatim/ bangsaonline.com

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kepala Staf Koarmatim (Kasarmatim) Laksamana Pertama TNI I N.G. Sudihartawan mewakili Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Didik Setiyono, memimpin upacara bendera 17-an yang berlangsung di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya. Selasa (17/4).

Dalam amanat Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang dibacakan kasarmatim menyampaikan, salah satu tantangan yang akan dihadapi dalam waktu dekat adalah pilkada serentak di 171 daerah di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun ini pula rangkaian Pemilu 2019 yang akan dimulai. Pesta demokrasi tersebut biasanya akan diiringi dengan meningkatnya suhu politik di Tanah Air. Kerawanan akan timbul bila hal itu dibarengi dengan berbagi tindakan kontraproduktif seperti kampanye hitam dan provokasi serta pengerahan massa yang anarkis.

Untuk itu Panglima TNI minta kepada seluruh prajurit dan ASN TNI untuk tidak bersikap reaktif terhadap segala isu yang berkembang. “Tetap fokus pada tugas yang diembankan kepada kita. Prajurit dan ASN TNI harus dapat membawa kesejukan di tengah-tengah masyarakat dengan tidak turut meneruskan atau menyebarkan isu-isu tidak jelas yang dibuat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan tetap menjaga netralitasnya,” jelas panglima.

Keikutsertaan purnawirawan TNI dalam pilkada tidak boleh mempengaruhi netralitas prajurit TNI. Partisipasi para purnawirawan tersebut memang menunjukan adanya penghargaan masyarakat terhadap purnawirawan, sekaligus wujud partisipasi aktif dalam politik setelah kembali ke tengah-tengah masyarakat. Namun partisipasi tersebut tidak boleh menyeret TNI ke kancah politik praktis.

Perkembangan di berbagai belahan dunia terlihat bahwa spektrum ancaman dan perang serta teknologi yang digunakan semakin kompleks. Negara-negara yang terlibat tidak lagi hanya terpukau pada satu spektrum ancaman tetapi sudah menghadapi berbagai bentuk ancaman pada saat yang bersamaan, tanpa adanya ketahanan nasional yang kuat. Bukan hal yang mustahil ancaman bertubi-tubi semacam itu dapat merongrong stabilitas suatu negara yang pada akhirnya membahayakan kedaulatan dan keutuhan negara yang bersangkutan. (dispen armatim/rd)

Sumber: Dispen Armatim
Kamis, 11 Juli 2019 16:29 WIB
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Siapa pun pasti tersenyum membaca nama tempat wisata ini. Maklum, identik alat vital wanita: “Tempik Gundul” yang artinya alat vital wanita tanpa bulu. Apalagi tulisan yang beredar di media sosial (medsos) juga d...
Minggu, 14 Juli 2019 13:13 WIB
Oleh: Dr. KH. M. Cholil NafisBaru saja, Kamis (12/7) saya berpartisipasi dalam kegiatan Bussiness Matching The 1st Pasific Exposition yang berlangsung pada 11 s.d. 14 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru.Pacific Exposition merupakan salah satu kontri...
Kamis, 18 Juli 2019 13:54 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag57. Ulaa-ika alladziina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbihimu alwasiilata ayyuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahtsuuraanOrang-orang yang mereka seru itu, ...
Sabtu, 29 Juni 2019 14:36 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...