Jumat, 27 April 2018 09:33

​Berikut Ini 10 Desa Stunting di Trenggalek Versi Pusat

Senin, 26 Maret 2018 23:59 WIB
Editor: Yudi Arianto
Wartawan: Herman Subagyo
​Berikut Ini 10 Desa Stunting di Trenggalek Versi Pusat
Kepala Dinas Kesehatan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana atau disingkat Dinkes PPKB Kabupaten Trenggalek dr. Sugito Teguh.

TRENGGALEK, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Trenggalek termasuk salah satu dari 100 kabupaten yang ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai Kabupaten Stunting.

Pernyataan ini di sampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana atau disingkat Dinkes PPKB Kabupaten Trenggalek dr. Sugito Teguh.

"Kabupaten Trenggalek itu termasuk salah satu dari 100 kabupaten yang ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai kabupaten Stunting. Tiap-tiap kabupaten itu punya desa Stunting. Jadi di Kabupaten Trenggalek terdapat 10 desa yang ditetapkan sebagai desa stunting oleh pemerintah pusat," kata Sugito di ruang kerjanya, Senin (26/3).

10 desa yang dikategorikan desa stunting yakni Desa Botoputih Kecamatan Bendungan, Desa Kayen Kecamatan Karangan, Desa Cakul Kecamatan Dongko, Desa Jajar Kecamatan Gandusari, Desa Dawuhan Kecamatan Trenggalek, Desa Kedunglurah Kecamatan Pogalan, Desa Puru, Nglebo, Ngrandu dan Mlinjon Kecamatan Suruh. 

Dijelaskan Sugito, kategori desa stunting merupakan wilayah di mana pertumbuhan dan perkembangan balita yang lambat yang tidak sesuai dengan usia balita. Hal ini disebabkan karena kurangnya asupan gizi. 

Stunting terjadi pada balita karena seringnya anak sakit dalam masa pertumbuhan, sehingga gizi tidak bisa diserap oleh tubuh secara maksimal.

"Jadi pada anak balita yang umurnya di bawah 5 tahun dilakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan. Selama ini kita memantau berat badannya dibandingkan umur, namanya BB/U,. itu yang masuk di kartu KMS. Kemudian ada istilah anak kurang gizi, anak gizi buruk, anak yang sehat serta anak yang mengalami obesitas," urainya.

Dijelaskannya, ada berbagai faktor penyebab terjadinya stunting. "Jadi bukan hanya karena kekurangan makan atau kekurangan gizi. Bisa saja gizinya cukup tetapi anak itu sering mengalami sakit. Entah itu batuk pilek, atau diare, atau macam-macam, sehingga gizi yang masuk itu terkuras untuk melawan penyakitnya. Sehingga tidak bisa membuat pertumbuhan badannya atau tingginya menjadi berkurang," bebernya.

Lebih lanjut ia sampaikan, jumlah balita stunting di Trenggalek jika dihitung jumlahnya berkisar di angka 22 persen. Sementara jumlah stunting untuk Provinsi Jawa Timur sebanyak 28 persen.

"Karena angka gizi buruk sudah mengalami penurunan yang cukup drastis, jadi pemerintah pusat pada saat ini mulai menyorot pada sisi yang lain yaitu stunting. Istilah stunting baru tahun ini dikemukakan oleh pemerintah pusat," pungkas Sugito. (man/ian)

Rabu, 25 April 2018 00:28 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*PILKADA terus diselenggarakan dan saya selalu membanding di kala bertandang di banyak negara Asia, Eropa maupun Timur Tengah. Pergantian kepala daerah memang banyak mengeluarkan ongkos dan perubahan di mana-mana terus dikamp...
Senin, 19 Maret 2018 19:42 WIB
Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .      Wa-aataynaa muusaa alkitaaba waja’alnaahu hudan libanii israa-iila allaa tattakhidzuu min duunii wakiilaan (2).Dzurriyyata man hamalnaa ma’a nuuhin innahu kaana ‘abdan syakuuraa...
Sabtu, 21 April 2018 12:32 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Jumat, 20 April 2018 23:01 WIB
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Ngawi dikenal mempunyai Alas Srigati atau Alas Ketonggo yang terletak 12 Km arah selatan dari kota. Menurut masyarakat Jawa, Alas Ketonggo merupakan salah satu wilayah angker atau ‘wingit’ di tanah Jawa.Ha...