Sabtu, 21 Juli 2018 20:47

​Berikut Ini 10 Desa Stunting di Trenggalek Versi Pusat

Senin, 26 Maret 2018 23:59 WIB
Editor: Yudi Arianto
Wartawan: Herman Subagyo
​Berikut Ini 10 Desa Stunting di Trenggalek Versi Pusat
Kepala Dinas Kesehatan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana atau disingkat Dinkes PPKB Kabupaten Trenggalek dr. Sugito Teguh.

TRENGGALEK, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Trenggalek termasuk salah satu dari 100 kabupaten yang ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai Kabupaten Stunting.

Pernyataan ini di sampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana atau disingkat Dinkes PPKB Kabupaten Trenggalek dr. Sugito Teguh.

"Kabupaten Trenggalek itu termasuk salah satu dari 100 kabupaten yang ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai kabupaten Stunting. Tiap-tiap kabupaten itu punya desa Stunting. Jadi di Kabupaten Trenggalek terdapat 10 desa yang ditetapkan sebagai desa stunting oleh pemerintah pusat," kata Sugito di ruang kerjanya, Senin (26/3).

10 desa yang dikategorikan desa stunting yakni Desa Botoputih Kecamatan Bendungan, Desa Kayen Kecamatan Karangan, Desa Cakul Kecamatan Dongko, Desa Jajar Kecamatan Gandusari, Desa Dawuhan Kecamatan Trenggalek, Desa Kedunglurah Kecamatan Pogalan, Desa Puru, Nglebo, Ngrandu dan Mlinjon Kecamatan Suruh. 

Dijelaskan Sugito, kategori desa stunting merupakan wilayah di mana pertumbuhan dan perkembangan balita yang lambat yang tidak sesuai dengan usia balita. Hal ini disebabkan karena kurangnya asupan gizi. 

Stunting terjadi pada balita karena seringnya anak sakit dalam masa pertumbuhan, sehingga gizi tidak bisa diserap oleh tubuh secara maksimal.

"Jadi pada anak balita yang umurnya di bawah 5 tahun dilakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan. Selama ini kita memantau berat badannya dibandingkan umur, namanya BB/U,. itu yang masuk di kartu KMS. Kemudian ada istilah anak kurang gizi, anak gizi buruk, anak yang sehat serta anak yang mengalami obesitas," urainya.

Dijelaskannya, ada berbagai faktor penyebab terjadinya stunting. "Jadi bukan hanya karena kekurangan makan atau kekurangan gizi. Bisa saja gizinya cukup tetapi anak itu sering mengalami sakit. Entah itu batuk pilek, atau diare, atau macam-macam, sehingga gizi yang masuk itu terkuras untuk melawan penyakitnya. Sehingga tidak bisa membuat pertumbuhan badannya atau tingginya menjadi berkurang," bebernya.

Lebih lanjut ia sampaikan, jumlah balita stunting di Trenggalek jika dihitung jumlahnya berkisar di angka 22 persen. Sementara jumlah stunting untuk Provinsi Jawa Timur sebanyak 28 persen.

"Karena angka gizi buruk sudah mengalami penurunan yang cukup drastis, jadi pemerintah pusat pada saat ini mulai menyorot pada sisi yang lain yaitu stunting. Istilah stunting baru tahun ini dikemukakan oleh pemerintah pusat," pungkas Sugito. (man/ian)

Oleh: Suparto Wijoyo*
Rabu, 18 Juli 2018 16:49 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo* KABAR pating semliwer memenuhi angkasa dan terhelat dalam belantara bumi nusantara. Para petinggi dan penglamun kekuasaan sedang merancang skenario untuk dapat bertahan, tidak hendak beringsut, tak rela bergeser, apalagi l...
Selasa, 03 Juli 2018 04:36 WIB
Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Fa-idzaa jaa-a wa’du uulaahumaa ba’atsnaa ‘alaykum ‘ibaadan lanaa ulii ba'sin syadiidin fajaasuu khilaala alddiyaari wakaana wa’dan maf’uulaan (5).Teks ayat kaji ini jelas sekali, beta...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Sabtu, 21 Juli 2018 10:50 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Senin, 16 Juli 2018 20:00 WIB
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Obyek wisata Pantai Kelapa yang berada di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban terus berbenah. Beberapa fasilitas penunjang di kawasan obyek wisata pantai tersebut dirombak dan ditambah guna meningkatkan day...