Kamis, 21 Juni 2018 18:57

​Marwah dan Netralitas NU Mesti Dijaga dengan Istiqomah

Rabu, 14 Maret 2018 16:33 WIB
Editor: Rizki Daniarto
Wartawan: Iwan Irawan
​Marwah dan Netralitas NU Mesti Dijaga dengan Istiqomah
Rapat internal di Kantor PWNU Jatim, Selasa (13/3) malam.

MALANG, BANGSAONLINE.com - Dukungan Muslimat NU Kota Malang di ajang Pilwali Kota Malang dan Pilgub Jatim 2018 beberapa hari lalu disoal. Apalagi diperkuat lagi dengan satu rilis resmi di tim media paslon MeNaWan (Nanda-Wanedi), Minggu (13/3), lalu.

Hal ini memantik reaksi pengurus PWNU Jatim. PWNU Jatim dan Muslimat NU Jatim langsung bereaksi menggelar rapat internal di Kantor PWNU Jatim, Selasa (13/3) malam.

Reaksi tersebut disebabkan Ketua Muslimat NU Kota Malang Nyai Hj Mutammimah Hasyim Muzadi, mengatakan jika Ansor, Fatayat, dan juga Muslimat sudah komitmen dukung pasangan MeNaWan untuk Pilwali dan Khofifah untuk Pilgub Jatim.

Akibat pernyataan itu, KH. Ali Masyhuri, Rais Syuriah PWNU Jatim langsung angkat bicara dan melakukan klarifikasi plus pengarahan atas tindakan Muslimat NU menggunakan surat organisasi yang bertujuan mendukung paslon Pilgub Jatim nomor 1.

"NU dan Banomnya mempunyai garis intruksi dan koordinasi, terlebih dalam menentukan sikap politik. NU pun mesti bersikap netral dalam tiap momen pemilu. Adapun dukungan itu sifatnya adalah individu atau pribadi. Dan NU mempersilakan kepada kadernya memilih dan mendukung sesuai hati nuraninya," tegasnya.

Nyai. Hj, Masrurah seorang pengurus Muslimat Jatim secara terus terang mengaku khilaf di hadapan para kiai dan siap menerima sanksi. "Saya siap menjalankan arahan maupun instruksi PWNU Jatim," tuturnya.

Lain halnya dengan Muslimat NU Kota Malang. Nyai Hj Mutammimah Hasyim menyangkal omongannya sendiri, yakni enggan mengomentari soal pilwali. ''Namun terkait pilgub, itu terjadi di Kabupaten Malang bukan di Kota Malang," singkat Nyai Hj Mutammimah.

Ketua PCNU Kota Malang KH. Isroqun Najah menegaskan jika secara kelembagaan NU mesti netral pada tiap pemilu. Adapun adanya dukungan itu mesti bersifat pribadi. "NU jangan ditarik ke politik praktis. NU sejak dulu sudah khitah tahun 1926. "Kalau sifatnya pribadi, terserah mau dukung siapa itu haknya," tegasnya. (iwa/thu/rd)

Rabu, 20 Juni 2018 03:21 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*UNGKAP syukur terekspresikan penuh hikmat kebijaksanaan dalam merayakan Hari Kemenangan, Idul Fitri, 1 Syawal 1439 H. Alhamdulillah saya diberi kemampuan oleh-Nya untuk melintas, menjelajah, menempuh kembali jalan-jalan kampung d...
Minggu, 20 Mei 2018 12:10 WIB
Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Wa-aataynaa muusaa alkitaaba waja’alnaahu hudan libanii israa-iila allaa tattakhidzuu min duunii wakiilaan (2).Dzurriyyata man hamalnaa ma’a nuuhin innahu kaana ‘abdan syakuuraan (3).Minggu-...
Kamis, 21 Juni 2018 01:57 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Rabu, 20 Juni 2018 22:03 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Obyek wisata Pantai Jumiang yang terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura, mulai diserbu pengunjung pada liburan Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Rabu (20/6).Bahkan ratusan pengunjung terliha...