Kamis, 21 Juni 2018 18:52

Nyai Aisyah Hamid Baidhowi: Wanita Tangguh, Dirikan 107 Koperasi, Mimpin 144 Panti dan 9.800 PAUD

Kamis, 08 Maret 2018 20:42 WIB
Wartawan: -
Nyai Aisyah Hamid Baidhowi: Wanita Tangguh, Dirikan 107 Koperasi, Mimpin 144 Panti dan 9.800 PAUD
Nyai Aisyah Hamid Baidhowi. foto: NU Online

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidhowi, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU (1995-2000), wafat. Adik kandung Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Mayapada, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (8 /3/2018) sekitar pukul 12.50 WIB.

Wafatnya putri KH Abdul Wahid Hasyim itu membuat warga NU berduka dan kehilangan. Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengaku kehilangan tokoh teladan. “Kepergian Ibu Aisyah menjadikan kami kehilangan sosok teladan,” kata Khofifah Indar Parawansa dikutip nu.or.id.

Menurut Khofifah, Nyai Aisyah merupakan pribadi luar biasa. “Selama hidupnya beliau membaktikan dirinya untuk kegiatan sosial keagamaan yang luar biasa di Muslimat NU,” katanya.

Khofifah menuturkan, meski usia sudah udzhur tapi Nyai Aisyah Hamid Baidhowi masih terus berkhidmat mimpin 144 panti asuhan, merintis 9800 lebih Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), dan Raudlatul Athfal (RA).

“Beliau juga sebagai perintis Yayasan Haji Muslimat, dan Induk Koperasi An-Nisa,” kata Khofifah. Jadi sejumlah lembaga di Muslimat NU selama ini adalah rintisan almarhumah.

Menurut Khofifah, komitmen dan tanggung jawab Nyai Hj Aisyah Hamid Baidhowi pada NU juga terbukti seminggu sebelum wafat masih mimpin rapat 5 yayasan sekaligus. “Sejak jam 10 pagi hingga 5 sore, beliau memimpin rapat di Muslimat NU,” kata Khofifah.

Khofifah juga mencatat kelebihan almarhumah yang lain. Menurut dia, Nyai Aisyah adalah sosok yang sangat detail. “Sosok yang penuh tanggung jawab, berpandangan sangat tajam, teliti dan kritis,” tandasnya. Menurut Khofifah, sosok seperti itulah yang susah dicarikan padanannya saat ini.

Khofifah mengajak semua warga NU dan rakyat Indonesia mendoakan kebaikan Nyai Aisyah. “Mudah-mudahan segala kebaikannya diterima Allah, dan kesalahan beliau diampuni,” katanya.

Prestasi dan pengabdian Nyai Aisyah memang luar biasa. Ia juga pernah menjabat Ketua Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) 1990-1995, Anggota DPR tiga periode (1997-2009), Pengurus Dewan Pimpinan MUI (1995-2000), Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah (2000-2010), dan Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (1999-2013).

Nyai Aisyah adalah putri kedua pasangan KH Wahid Hasyim-Nyai Hj Solehah. Dia adik Gus Dur dan kakak kandung Dr Ir KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), dr Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid. Nyai Aisyah juga pernah merilis bukunya berjudul “Pekerja Sosial di Kancah Politik”.

Jenazah Nyai Aisyah disemayamkan sementara di rumah duka di Jalan Bukit Pratama Raya A-9, Pasar Jumat, Lembak Bulus. Rencananya Jumat pagi (9/3/2018) akan diterbangkan ke Surabaya, Jawa Timur pukul 22.00 WIB dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, dan akan dikebumikan di Madrasatul Qur’an TebuirengTebuireng, Jombang, Jawa Timur. Tanah Madrasatul Qur’an ini memang merupakan wakaf dari keluarga Nyai Aisyah.

PEREMPUAN TANGGUH

Seperti ditulis Fathoni Ahmad di NU Online, sejarah kehidupan Nyai Aisyah sangat mengagumkan. Sekitar usia tiga tahun, ia ikut orang tuanya pindah ke Jakarta. Namun, karena situasi saat itu belum aman yakni pendudukan Nippon atau Jepang, ia diajak ibunya, Nyai Hj Sholehah Wahid Hasyim kembali ke Jombang.

Nyai Aisyah pun kembali merasakan tanah kelahiran sekaligus menempa diri di pesantren. Ketika Kiai Abdul Wahid Hasyim, ayahnya, diangkat menjadi menteri agama pada 1945, Nyai Aisyah masih mengikuti pendidikan di Jombang. Kiai A Wahid Hasyim menjabat menteri agama (shumubu) hingga 5 kali sejak tahun 1945 hingga 1952.

Setelah situasi normal di Jakarta pada 1950, Nyai Aisyah sekeluarga diboyong ke Jakarta. Ketika sedang menikmati kehidupan bersama keluarga, Kiai A Wahid Hasyim wafat akibat kecelakaan lalu lintas di daerah Cimahi Jawa Barat pada 1953.

Sebagai putri tertua, sejak saat itu Nyai Aisyah sadar dirinya harus berperan sebagai seorang ibu bagi keempat adiknya yaitu Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid. Hal itu dilakukan ketika sang ibu dan kakaknya Abdurrahman Wahid sibuk kegiatan di luar.

Namun tempaan kondisi itu justeru membuat Nyai Aisyah menjelma sebagai perempuan tangguh, disiplin, dan pengayom. Berawal dari didikan sang ibu dan kiprah sang ayah yang luar biasa, Nyai Aisyah mempunyai bekal penting untuk berperan dalam kehidupan yang lebih luas lagi.

Ia juga sadar kiprah kedua kakeknya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan KH Bisri Syansuri untuk NU dan Indonesia. Salah satu pesan orang tuanya agar Nyai Aisyah selalu mencintai NU. Secara khusus, Aisyah mendapat pesan dari ibunya agar menjaga Muslimat NU. (Sri Mulyati dkk, 70 Tahun Muslimat NU: Kiprah dan Karya Perempuan NU, 2017)

Kiprah Nyai Aisyah di NU dimulai ketika dirinya menjabat Ketua Fatayat NU Wilayah DKI Jakarta (1959-1962) pada usia 19 tahun. Ini menarik karena meski Nyai Aisyah keturunan ‘darah biru’ NU, ia tetap menjalani proses kaderisasi dari bawah. Bagi dia, proses berjenjang aktif di organisasi akan menempa seseorang menjadi lebih matang.

Ia kemudian dipercaya sebagai Bendahara Fatayat NU di tingkat pusat pada 1962-1967. Meskipun memangku kedudukan inti di PP Fatayat, tidak menghalangi dirinya aktif di jajaran Muslimat NU. Saat itu Muslimat NU di bawah kepemimpinan Nyai Hj Machmudah Mawardi. Nyai Aisyah membantu Muslimat NU di bidang sosial. Atas pengabdiannya di bidang sosial tersebut, ia diangkat menjadi Sekretaris II Pimpinan Pusat Muslimat NU.

Pada Kongres Muslimat NU di Probolinggo tahun 1984, Nyai Aisyah diangkat menjadi Ketua III PP Muslimat NU. Lalu pada Kongres berikutnya tahun 1989 di Kaliurang, Yogyakarta, ia diangkat sebagai Ketua II PP Muslimat NU.

Puncaknya, ketika Kongres Muslimat NU 1995 di Jakarta.Dia terpilih sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU melalui proses yang sangat demokratis. Saat itu ia bersaing dengan budhenya sendiri Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid yang tak lain putri KH Abdul Wahab Chasbullah, tokoh pendiri NU sekaligus salah satu yang membidani kelahiran Muslimat NU.

Nyai Aisyiah yang lahir di Jombang, 4 Juni 1940 ini kemudian menakhodai Muslimat NU. Inilah saatnya merealisasikan pesan sang ibu untuk menjaga Muslimat NU. Bekal kepemimpinannya dari tingkat bawah menjadi modal penting menggerakkan organisasi perempuan terbesar di Indonesia ini menjadi organisasi mandiri, maju, dan modern.

Kiprahnya untuk memajukan perempuan Nahdliyin dan perempuan Indonesia sesungguhnya dimulai ketika ia diamanahi Ketua Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) periode 1990-1995. Jabatan ini diembannya sebelum ia memimpin Muslimat NU. Representasi kemandirian perempuan NU menjadi bekal berharga untuk memajukan KOWANI sebagai organisasi perempuan dari beragam perkumpulan.

Saat jadi ketua umum PP Muslimat NU, Nyai Aisyah berhasil mendirikan 107 koperasi primer yang tersebar di seluruh kabupaaten/kota di Indonesia, disamping tiga Pusat Koperasi dan Induk Koperasi Annisa (Inkopan). Jadi ia sukses meletakkan dasar program-program pemberdayaan ekonomi. Selain itu ia juga mendirikan lembaga pendidikan dan kesehatan serta merealisasikan pendirian Pusdiklat Muslimat NU di Pondok Cabe, Tangerang Selatan yang kala itu digagas oleh Ketua Umum sebelumnya, Hj Asmah Sjachruni.

Karir Nyai Aisyah terus menanjak. Di bidang politik ia terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI selama tiga periode (1997-2009). Ia termasuk perempuan yang membidani lahirnya Undang-Undang Perhajian Nomor 17 tahun 1999. Ia menginginkan perhajian transparan dan UU tersebut menjadi payung hukum pertama perhajian di Indonesia.

Berbagai prestasi yang diraihnya itu membuahkan berbagai penghargaan. Di antaranya Nyai Aisyah mendapat penghargaan dari Yayasan Asma Indonesia (1990), Manggala Karya Kencana Kelas I dari Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN (1997), Honorary Award of the Realization of World Peace and the Promotion of Education and Culture dari Soka University, Tokyo (2001).

Perjuangan atau pengabdian demi pengabdian itu selain menorehkan manfaat bagi warga NU dan rakyat Indonesia niscaya juga menjadi amal baik Nyai Aisyah di akhirat. Amin. (tim)

Rabu, 20 Juni 2018 03:21 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*UNGKAP syukur terekspresikan penuh hikmat kebijaksanaan dalam merayakan Hari Kemenangan, Idul Fitri, 1 Syawal 1439 H. Alhamdulillah saya diberi kemampuan oleh-Nya untuk melintas, menjelajah, menempuh kembali jalan-jalan kampung d...
Minggu, 20 Mei 2018 12:10 WIB
Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Wa-aataynaa muusaa alkitaaba waja’alnaahu hudan libanii israa-iila allaa tattakhidzuu min duunii wakiilaan (2).Dzurriyyata man hamalnaa ma’a nuuhin innahu kaana ‘abdan syakuuraan (3).Minggu-...
Kamis, 21 Juni 2018 01:57 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Rabu, 20 Juni 2018 22:03 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Obyek wisata Pantai Jumiang yang terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura, mulai diserbu pengunjung pada liburan Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Rabu (20/6).Bahkan ratusan pengunjung terliha...