Senin, 19 November 2018 11:11

Dugaan Malapraktik, Pasien di RSI Siti Khodijah Sidoarjo Baru Disuntik saat Sudah Meninggal

Senin, 29 Januari 2018 17:46 WIB
Wartawan: Catur Andy
Dugaan Malapraktik, Pasien di RSI Siti Khodijah Sidoarjo Baru Disuntik saat Sudah Meninggal

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Keluarga pasien RSI Siti Khodijah Kecamatan Taman Sepanjang, Sidoarjo memprotes atas kematian orang tuanya saat dilakukan penanganan di rumah sakit. Keluarga korban beranggapan pihak rumah sakit sudah menelantarkan pasien hingga menyebabkan kematian.

Hal itu setelah beredar kabar sebuah video berdurasi 03.11 menit saat keluarga pasien memaki-maki seorang dokter yang diduga menelantarkan pasien hingga menyebabkan kematian. Korban meninggal bernama Supariyah (40) warga Jalan Suningrat, Desa Ketegan, Kecamatan Taman, Sidoarjo.

Menurut Abu Daud (41) kerabat dari korban saat diwawancarai mengatakan pihaknya sangat kecewa atas pelayanan pihak rumah sakit Siti Khodijah yang bertempat di Kecamatan Taman Sidoarjo. Pasalnya, pihak rumah sakit hingga saat ini tidak ada itikad baik untuk mengakui kesalahannya atas pelayanan yang dilakukan pihak rumah sakit hingga menyebabkan korban meninggal dunia.

Kejadian itu bermula saat keluarga korban mengantar Supariyah ke rumah sakit Siti Khodijah pada Rabu, 20 Desember 2017 lalu sekitar pukul 04.30 WIB. Saat itu, korban meninggal mengeluh jika kepalanya pusing dan sedikit mual.

"Setelah sampai di RS, ibu saya langsung dibawa ke UGD dan ditangani oleh dokter tugas UGD yang kemudian diberi suntikan dan diberi resep dokter untuk membeli obat di apotek," kata Abu Daud saat ditemui dirumahnya, Senin (29/1).

Menurut pihak rumah sakit, pasien harus menunggu reaksi antara 30-40 menit setelah diberi suntikan. Tak lama, kondisinya sempat membaik, dan pasien dipersilakan untuk pulang. Namun pada pukul 10.00 WIB, kondisi pasien semakin memburuk.

"Waktu itu, kondisinya kembali lemas dan muntah-muntah. Akhirnya keluarga sepakat kembali merujuk ibu ke rumah sakit agar di rawat inap," jelasnya.

Keluarga korban kembali membawa korban ke rumah sakit, namun pihak rumah sakit menyatakan kamar sudah penuh. Kemudian Faisal, kakak korban, sempat menanyakan kepada perangkat desa terkait BPJS tersebut. Namun, perangkat meminta agar pasien dirujuk dengan menggunakan pasien umum.

"Setelah itu, kami menghubungi rumah sakit untuk memesan kamar dengan menggunakan umum. Alhamdulillah menurut rumah sakit masih ada yang kosong satu kamar," ungkapnya menjelaskan.

Sesampainya di rumah sakit, keluarga sempat tak diberikan masuk. Namun keluarga tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya merupakan pasien umum dan sudah membooking kamar. Spontan petugas langsung menerima pasien. Pasien masuk ke ruangan paviliun Multazam 08 sekitar pukul 11.30 Wib.

"Setelah masuk, baru diinformasikan dari rumah sakit bahwa yang akan menangani pasien adalah dokter Zakaria (spesialis penyakit dalam) dan Dokter Hamdan (penyakit Syaraf)," jelasnya.

Usai masuk ke kamar, pasien masih menunggu kehadiran dokter. Namun hingga petang dokter pun tak ada yang melayani. Awalnya pasien menunggu di ruang IGD. Baru setelah pukul 14.45 pasien dikembalikan ke kamarnya.

"Kami dijanjikan, bahwa pasien akan diperiksa pada pukul 17.00 WIB. Setelah jam lima tak kunjung datang. Kami kembali dijanjikan pukul 19.00, 21.00 hingga molor pukul 23.00 WIB. Tapi tetap saja tidak ada dokter yang datang," katanya.

Hingga esok harinya, keluarga terus menunggu kedatangan dokter. Sekitar pukul 14.30 WIB barulah dokter Zakariya datang untuk melakukan pemeriksaan. Dalam pemeriksaannya, dokter menyatakan bahwa pasien terganggu pada syaraf tenggorokan, sehingga tidak bisa menerima makanan.

"Bukan kapasitasnya untuk melakukan pemeriksaan. Karena yang berhak memeriksa adalah dokter Hamdan spesialais syaraf," katanya menirukan yang disampaikan dokter Zakaria kepada keluarga korban.

Pasien yang semakin kritis kemudian hanya dilakukan penyuntikan oleh suster. Hingga pukul 20.00 WIB, dirinya dan kakaknya langsung memprotes keberatan kepada pihak suster piket. "Tolong sampaikan kepada pimpinan dan dokter Hamdan apabila terjadi apa-apa kepada ibu saya sebelum dokter datang, kalian semua akan kami tuntut," ujarnya.

Sekitar pukul 21.00 WIB, dokter Hamdan pun tak datang juga. Namun suster masih melakukan penyuntikan tanpa melakukan pengecekan.

"Kami curiga, karena saat disuntik, ibu saya enggak bergerak. Setelah saya check pergelangan tangannya, ternyata sudah tidak ada denyut nadinya," terang Abu Daud.

Dalam video berdurasi sekitar tiga menitan tersebut terlihat keluarga korban memaki-maki dokter yang diketahui bernama Hamdan. Dari percakapan video tersebut, diketahui bahwa suster melakukan penyuntikan pada pasien dalam keadaan sudah meninggal. (cat/ian)

Rabu, 14 November 2018 00:10 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*SUASANA khusuk menyelimuti Jumat malam 9 November 2018 di lorong-lorong kampung, di ruas-ruas musholla, di beranda-beranda langgar, di ruang-ruang masjid, surau ataupun gardu desa. Rakyat membaca doa dengan selingan renungan tent...
Minggu, 18 November 2018 03:20 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Wayad’u al-insaanu bialsysyarri du’aa-ahu bialkhayri wakaana al-insaanu ‘ajuulaan (11).Ayat studi ini mengingatkan, betapa watak dasar manusia itu tak sabaran, maunya segera terwujud ap...
Sabtu, 10 November 2018 10:00 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Selasa, 06 November 2018 22:28 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - Dua tahun terakhir Kabupaten Madiun mendapatkan penghargaan Anugerah Wisata Tingkat Provinsi Jawa Timur. Pertama anugerah wisata buatan terbaik provinsi diraih Taman Wisata Madiun Umbul Square tahun 2017, menyusul kemudian ...